
Penulis: Annisa Allya Putri
Siang itu matahari terasa sangat menyengat ke kepala seorang pengamen, pengamen itu mendatangi para pengendara lalu lintas dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketika pengamen itu unjuk gigi di angkot yang penuh penumpang, lagu itu dilantunkan dengan nada ala kadarnya. Iringan musiknya pun sangat sederhana, yaitu dengan memukul-mukulkan beberapa lempengan tutup botol yang ditancapkan ke kawat besi sebesar sapu lidi ke tangannya. Ketika itu muncul, bermacam respons dari penumpang, sebagian penumpang mungkin jengkel karena sudah pengap dengan keringat dan suara klakson pengendara, lalu mereka harus terganggu lagi dengan aksi sang pengamen.
Baca Juga: Intoleransi Sosial di Era Digital: Gen Z Sekarang Miskin Etika
Beberapa penumpang yang lain mungkin merasa terhibur dengan alunan musik dan suaranya. Ada juga beberapa penumpang yang merasa iba dengan nasib sang pengamen tersebut. Ada penumpang yang bersuka hati merelakan uang recehnya ketika sang pengamen berkeliling memohon kepingan koin para penumpang.
“Terima kasih” ucap pengamen tersenyum sumringah kepada penumpang yang memasukan uang ke dalam bungkus permen tersebut. Namun, ada penumpang yang enggan merogoh kocek sembari menunjukkan isyarat dengan tangan tanda tidak ingin memberi. Bahkan ada penumpang yang menghindari bungkus permen pengamen yang dikelilingkan dengan berpura-pura tidur. Begitulah nasib sang pengamen, ketika mereka mengais rupiah di angkutan umum.
Tak semua anak bisa sekolah dengan nyaman dan bermain bersama teman-temannya tanpa perlu memikirkan kondisi keuangan orang tuanya. Beberapa anak harus banting tulang demi membantu mencari uang. Hal inilah yang juga harus dilakukan oleh seorang anak laki-laki bernama Fahri, ia terpaksa putus sekolah dan tak bisa melanjutkan pendidikannya karena terkendala biaya. Fahri bahkan harus mengamen di jalanan demi membantu mencari uang untuk keluarganya.
“Padahal saya ingin sekali bersekolah,” ujarnya. Fahri mengaku bahwa dirinya sebenarnya masih mau melanjutkan sekolah. Sangat disayangkan, sekarang ia harus mengais rezeki untuk keluarganya. Meski usianya masih belia, tetapi ia harus merasakan pahitnya kehidupan hingga membuatnya putus sekolah dan harus bekerja.
“Saya sudah terbiasa begini, hampir setahun sudah begini, pagi berangkat nanti jam segini baru pulang, ini pun dapatnya paling cuma 100 ribu dikasihkan ke mama untuk dibelanjakan makan di rumah sehari-hari,” ungkapnya.
Fahri ingin meraih kesuksesan di tengah keterbatasan ekonomi. “Saya tidak mau terus-terusan seperti ini, namun karena tuntutan hidup saat ini saya harus melakukannya,” sambungnya.
Kendati hidup di jalanan aksara, Fahri belum pernah menerima kekerasan fisik. “Biasanya pulangnya jalan dengan kakak. Paling sampai jam 1 malam sudah pulang, kadang tidur cuma 5 atau 6 jam, paginya ngamen lagi,” katanya seraya meneteskan air mata.
Fahri mengaku alat musik yang dipakai ia buat sendiri. “Lebih ramai pakai ini, kalau suara saja tidak seru,” pungkasnya.
Dengan keterbatasan ekonomi yang ia miliki membuat Fahri sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama makanan dan sandang. Fahri harus bergantung pada belas kasihan orang-orang yang lewat untuk mendapatkan sedikit sumbangan.
Kisah pilu fahri ini seharusnya menjadi cerminan bagi kita semua untuk lebih peduli dan membantu kepada mereka yang membutuhkan, agar mereka dapat merasakan sedikit kehangatan dan kebaikan dalam kehidupan yang penuh dengan keterbatasan.
Baca Juga: Pers Mahasiswa di Bawah Bayang-Bayang Perlindungan Hukum
Editor : Ranum Aisyah

