
Setelah rehat beberapa minggu, akhirnya Medan Book Party kembali mengadakan “Piknik Sambil Membaca Buku”, yang biasa disebut pesta buku atau book party. Kegiatan ini diselenggarakan pada Minggu, 5 Mei 2024, tepat di bawah pohon rindang nan asri, Taman Ahmad Yani Kota Medan.
Baca Juga: Pers Mahasiswa di Bawah Bayang-Bayang Perlindungan Hukum
Medan Book Party adalah suatu komunitas yang tujuannya membaca buku bersama, yang biasanya diadakan setiap hari Minggu. Piknik sambil membaca buku telah dilalui selama hampir setengah tahun, atau lebih tepatnya lima bulan, sejak Desember 2024. Komunitas ini juga merupakan salah satu bagian dari komunitas Jakarta Book Party.
Menariknya, dalam kegiatan yang mereka laksanakan, tidak ada larangan batasan usia untuk pesertanya. Tak hanya itu, Desy Purwanti sebagai penanggung jawab kegiatan pesta buku juga mengatakan, mereka yang ingin bergabung diperbolehkan membawa buku apa saja dan tidak dipungut bayaran.
“Kami merangkul semua yang mau datang, dari yang tua sampai yang muda boleh kalau mereka mau bergabung. Untuk buku yang ingin dibawa bebas, apa saja buku yang mau dibawa semua diperbolehkan dan tidak dimintai biaya,” katanya.
Ia juga mengungkapkan beberapa hal yang membuatnya terharu seperti setiap acara akan ditutup, ia selalu berterima kasih kepada para peserta atas antusias mereka yang luar biasa.
“Setiap mau menutup acara ini, saya selalu bilang terima kasih sama mereka. Saya merasa banyak anak introver yang mau datang ke sini, itu luar biasa. Bahkan pernah mau diliburkan saat libur puasa mereka tidak mau,” ungkapnya.
Di sela-sela pembicaraan, terdengar bahwa Desy berkeinginan agar pesta buku diadakan di sekolah-sekolah, seperti halnya SD atau TK. Namun, kekurangan buku.
“Kalau untuk komunitas ada beberapa yang berkolaborasi juga dengan kita, salah satunya Beyond The Pages. Kalau untuk sekolah pengin di SD atau TK, agar lebih enak mengajarkannya. Jadi, bisa sambil main bersama dengan anak-anak. Saya sudah pernah sharing ke pusat untuk mengadakan di sekolah. Akan tetapi, kita kurangnya di buku, mau nodong gramedia juga tidak bisa, mau pinjam display-nya juga tidak bisa,” jelasnya.
Di sisi lain, Desy juga menambahkan bahwa mereka sangatlah kekurangan pendukung dan tempat. Besar harapannya kepada pemerintah, untuk berupaya memberikan dukungan seperti tempat yang cocok dan lain sebagainya.
“Kalau saya tidak banyak relasi di bidang kementerian seperti itu, jadi kurang ada dukungan dari pihak terkait. Kurangnya satu saja, yakni ketersediaan tempat. Ke depannya, semoga pemerintah bisa memberikan kita tempat nyaman, misalnya taman yang ada gazebonya,” sambungnya.
Ternyata Medan Book Party bukan hanya tempat untuk membaca buku, di dalamnya banyak anggota yang berpotensi. Hal itu membuat Desy semakin berharap supaya para anggotanya dapat mengembangkan bakatnya.
“Sebenarnya anak-anak yang ikut komunitas ini banyak yang suka teater, saya baru sadar mereka memiliki banyak potensi. Jadi kalau bisa, saya juga akan mencari tempat untuk kalian agar tetap nyaman berada di komunitas ini. Harapan ke depannya tidak harus membaca, apa pun kemampuan kalian, ayo kembangkan,” harapnya.
Semangat yang membara ditunjukkan oleh salah satu anggota Book Party, yaitu Jernih, ia sangat antusias ingin sharing buku bacaan di setiap minggunya agar bisa menambah pertemanan.
“Medan Book Party ini luar biasa karena banyak orang yang mau bergabung. Selain itu, saya jadi tahu banyak orang Medan yang mau membaca buku. Saya sendiri jadi selalu menunggu, minggu depan aku harus sharing dan ngomongin buku apa lagi ya?” ucapnya.
Anggota yang telah berhadir selama lima kali di kegiatan itu, dengan lantang menuturkan tanggapannya bahwa kegiatan seperti Medan Book Party bertujuan menormalisasikan mereka yang berpendapat membaca buku sangat membosankan dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu.
“Kita bisa bilang literasi membaca di Indonesia angkanya tidak ada perubahan. Sebenarnya, bukan karena angkanya yang rendah, tapi akses kita untuk membaca yang rendah. Selain itu, gerakan membaca buku selalu dianggap orang kaku dan hanya orang-orang tertentu, maka dengan adanya gerakan-gerakan ini membuatnya menjadi normal,” tuturnya.
Agar para anggota tetap menjaga semangatnya, Jernih berharap kepada teman-temannya untuk selalu konsisten membaca. Tak lupa, ia juga memberikan kata-kata semangat dan berterima kasih kepada para panitia.
“Saya berharap, dengan adanya kegiatan ini bisa menambah keyakinan anggota untuk terus menjaga kegiatan membacanya. Untuk teman-teman panitia semangat terus, ya, terima kasih sudah menampung dan memberikan kami ruang membaca yang sangat luas,” katanya.
Terakhir, Jernih memberi pesan penting bagi para pembaca yang baru mulai membaca, yakni hanya dengan membaca, kita bisa memiliki pandangan yang luas untuk mengetahui hal-hal menarik tentang dunia.
“Membaca itu sangat penting, ya, apa pun yang kamu baca punya nilai tersendiri dan bisa membuat kamu memiliki pandangan yang lebih luas tentang dunia. Mungkin lewat membaca, kamu jadi paham bahwasanya kamu punya peran untuk perkembangan dunia. Jadi, ayo membaca! Karena buku itu sama saja seperti membaca teks di gawai. Maka dari itu, membaca sangat penting,” tutupnya.
“Jika kita tak membaca buku, kita hanya hidup tanpa mendapat sesuatu yang terbaik dalam hidup,” Tim Federle.
Baca Juga: Intoleransi Sosial di Era Digital: Gen Z Sekarang Miskin Etika
Reporter : Riska Nurasnida Siregar dan Khayrani Ramadani
Editor : Fadillah Hanum

