
Penulis: Rizkiani Fadhila
Uhuk-uhuk!
Pukul 05.00 WIB subuh Jaka terbangun dari tidurnya akibat suara batuk yang bukan hanya sekali dua kali bersuara. Akan Tetapi, Jaka sudah mendengarnya sepanjang malam ini. Jaka lantas turun dari ranjang, berjalan ke arah dapur. Tampak Ibunya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan lanjut untuk memasak sarapan.
“Mamak sakit?” tanyanya.
Baca Juga: Si Anak Bertekad Baja /1/
Ibunya terdiam sebentar, lalu menghela napas, “Cuman gak enak badan aja, uhuk! Sudah sana kau ke kamar mandi siap-siap salat terus sekolah,” ucap sang Ibu.
Jaka mengangguk patuh. Ia lantas berjalan masuk ke arah kamar mandi. Usai mengenakan seragam putih merahnya, Jaka lalu mendatangi Ibunya yang tengah menyetrika pakaian untuk berpamitan.
“Hati-hati kau, kau tengok-tengok jalan itu,” kata Ibunya memperingati.
“Iya, Mak, Jaka pigi dulu, ya. Assalamualaikum.” entah mengapa Jaka merasa enggan untuk meninggalkan Ibunya di rumah. Anak itu menggeleng cepat, mencoba melupakan apa yang ia pikirkan. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah 07.00, yang artinya setengah jam lagi, kelas akan masuk. Ia tidak boleh terlambat.
Untungnya Jaka masuk sebelum gurunya masuk. Seperti anak-anak lainnya yang saat ini menunggu kedatangan wali kelas mereka, Jaka tampak berbincang dengan teman sebangkunya.
“Gimana, Lang, tadi malam, siapa yang menang?” tanya Jaka.
Galang, anak berusia 9 tahun dengan tubuh gempal itu berhenti memakan sarapannya dan menoleh, “Wih! tulah kau, kan, gak nonton sampek habis. Menang Indonesia. Makin rame kemaren kede Mak Tuo karena itu,” jelasnya.
Jaka mendengus, “Memangnya kemaren siap sampek jam berapa?”
“Jam 12.00 WIB”
“Bah! Pantaslah matamu hitam, hahaha!” gelak Jaka menertawai mata Galang yang seperti panda.
“Yang penting bisa nonton, wleek!” ejek Galang tak sama sekali sakit hati dengan ledekan Jaka.
Tak lama, akhirnya yang di tunggu-tunggu datang. Ibu guru masuk hingga kelas yang awalnya riuh seketika hening. Murid Sekolah Dasar (SD) kelas 4 langsung duduk di bangkunya masing-masing.
“Silakan dikumpul tugasnya!” seru ibu guru.
Galang membulatkan matanya, “Alamak! Ada PR!”
Bukan hanya Galang, bahkan anak laki-laki lainnya juga bereaksi sama. Kecuali Jaka yang sudah maju untuk ikut mengumpulkan tugasnya ke depan.
Alis ibu guru terangkat, “Yang anak laki-lakinya cuman Jaka yang ngumpul?”
Semua anak laki-laki menunduk, hingga salah satu dari mereka menyahut, “Kemaren ada siaran langsung sepak bola, bu, kami semua nonton di kedai Mak Tuo.”
“Ish! Dap! Ribut kali, sih!” anak yang duduk di sebelahnya, menyikut kesal.
“Jadi karena itu kalian enggak ngerjain PR?”
Semua anak makin menunduk. Ibu guru menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
“Gak ada yang salah jika kalian nonton sepak bola, yang salah itu kalian, sampai lupa waktu, lupa mengerjakan tugas. Pokoknya Ibu tidak mau tau, kalian keluar lalu kerjakan PR-nya! Kumpulkan ke meja Ibu kalau sudah selesai!”
“Baik buk,” lirih seluruh murid yang tidak mengerjakan PR.
Kriingg
Suara lonceng yang menandakan jam istirahat bersuara di setiap sudut sekolah. Jaka keluar dari kelasnya melihat teman-temannya masih duduk di teras kelas sambil mengerjakan hukuman yang diberi gurunya.
Jaka tergelak, “Semangat, ya, kawan-kawan!”
Galang berdecak, “Gak usah sombong, Jak!”
“Bodoh, ah, mau jajan!” kata Jaka, menyombongkan diri.
“Mau nitip …” Pinta Galang menahan tangis.
Jaka memutar bola matanya malas, “Mau nitip apa?”
Galang mengembangkan senyum, “Aku mau nitip batagor, bakso bakar, intel!”
“Banyak kali!”
“Yang pentingkan pakek uangku!” kata Galang memberikan uangnya.
Tapi, sebelum Jaka berbalik untuk membeli jajan, seruan dari ibu guru membuat anak itu menoleh ke asal suara.
“Ayo, pulang,” ucap gurunya.
“Loh, bu, tapi ini, kan, bukan jam pulang?”
Jaka makin heran begitu air mata ibu guru jatuh. Wanita itu duduk, menyesuaikan tingginya dengan Jaka, merangkul anak itu sembari mengusap punggungnya.
“Jaka, yang sabar, ya.” kata gurunya menenangkan.
“Kenapa bu?” tanya Jaka makin bingung.
“Mamak udah gak ada lagi, Jak,” ucap sang guru menahan tangis.
Jaka memproses setiap kata yang diucapkan bu guru. Ia berusaha mengelak, mungkin saja ia salah dengar.
“Tadi Mamak masih ada, kok, bu,” ucapnya dengan suara menggetar.
“Ayo, sekarang Jaka ikut Ibu, ya,” ajak wanita itu tak mampu menjelaskan.
Jaka merasakan perih di matanya. Jantungnya berdebar kencang, tidak sanggup mendengar bahwa kebenaran bahwa Ibunya sudah pergi. Bu guru membawa Jaka pulang dengan motor sekuternya, begitu sampai di rumah. Kini, rumahnya telah dipenuhi banyak orang. Ibunya benar-benar pergi untuk selama-lamanya.
Baca Juga: Secercah Asa /1/
Bersambung….
Editor: Fadillah Hanum

