Si Anak Bertekad Baja /3/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Sigit Bahuraksa)

Penulis: Rizkiani Fadhila

Semua orang memintanya untuk sabar. Hati Jaka hancur, ia teringat pesan terakhir Ibunya di malam tadi.

“Kau dengar mamakmu ini, biar jadi orang besar kau! Main itu cuman buang-buang waktu! Kalau kau belajar, kau bisa jadi polisi atau tentara, bisa bangun rumah yang lebih layak untuk kita!”

Baca Juga: Si Anak Bertekad Baja /2/

“Mamaaakkkkk!” pekiknya yang membuat hati siapa pun iba melihatnya. Jaka memeluk tubuh kaku Ibunya dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.

“Mamaaakkkkkk!!” teriaknya lirih.

Sejak hari itu dunia Jaka berakhir. Kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkannya. Jaka juga baru mengetahui bahwa Ibunya sudah lama mengidap penyakit tuberculosis (TBC) dan tidak memiliki uang untuk berobat. Uang dari hasil mencuci pakaian orang, sudah terpenuhi untuk makan sehari-hari.

“Jaka, ayo main!” ajak Galang, yang ikut merasa sedih melihat keadaan sahabatnya.

“Aku mau belajar,” ucapnya menolak ajakan Galang.

“Ayolah, Jak, dari kemaren kau belajar terus. Sesekali main sama kami, Jak,” bujuk Galang kepada Jaka.

Jaka menggeleng, “Kata Mamak, kalau mau jadi orang besar, harus belajar.”

Galang mengacak rambutnya, “Ah, yasudahlah, terserah kau.”

Jaka tak berekspresi apa-apa tatkala temannya meninggalkannya dan bergabung dengan teman-teman yang lain. Ia tetap fokus membaca buku hingga tak sadar ibu guru duduk di sampingnya.

“Kenapa enggak ikut main sama teman-teman yang lain?” tanya gurunya.

Jaka menggeleng, “Nanti Jaka enggak bisa jadi orang besar,” kata Jaka dengan sendu.

“Siapa bilang?”

“Mamak”

“Memangnya Mamaknya Jaka ngelarang main? Bukan karena Jaka main sampai lupa waktu?”

Jaka menggeleng, “Mamak marah cuman karena Jaka telat pulang, terus lupa belajar.”

“Nah, berarti gak ada salahnya Jaka main,” timpal gurunya

“Begitu, ya, Bu?”

Ibu guru mengangguk dan tersenyum, “Ibu yakin Jaka pasti bisa jadi orang sukses. Oh, ya, sekarang Jaka tinggal sama siapa?” tanya gurunya lagi.

“Sama om dan tante, Bu. Tetapi ya … disuruh ini, itu terus, kadang sampai gak ada waktu untuk belajar lagi,” kata Jaka agak pelan ketika memberitahu om dan tantenya yang kurang baik memperlakukannya.

“Kalau tinggal sama Ibu mau?” tanya sang guru menawarkan.

“Nanti Jaka ngerepotin,” ucap Jaka memberi alasan.

Gurunya hanya menggeleng, “Ibu bakal membiayai sekolahmu, asal Jaka harus tetap semangat belajarnya,” katanya dengan senyuman.

“Beneran, bu?” mata Jaka berbinar senang.

Guru tersebut mengangguk, dengan senyuman yang tidak hilang dari wajahnya. Jaka bersorak senang hingga akhirnya kembali terdiam.

“Tetapi, Jaka gak berani ngomong sama om,” timpalnya penuh kerisauan.

“Aman, nanti Ibu yang ngomong,”

“Terima Kasih, Bu!”

Inilah awal mula kesuksesan Jaka dimulai. Dibantu oleh kebaikan sang guru, serta beasiswa-beasiswa yang berhasil Jaka dapatkan. Hingga 17 tahun kemudian, ia akhirnya berhasil lolos menjadi salah satu Tentara Republik Indonesia (RI). Anak kecil itu telah tumbuh menjadi pemuda bertubuh tegap dan tampan. Tampak dirinya dengan baju dinas tentara yang tengah duduk di tengah-tengah pusara Ayah dan Ibunya.

“Mak, Yah, Jaka udah jadi tentara. Minggu depan bakal ada tugas keluar kota, jadi gak sempat ngunjungin lagi,” ucapnya di depan batu nisan itu.

Jaka berdiri dari duduknya, memandang dua makam itu dalam-dalam. Pria itu langsung mengusap sudut matanya, begitu merasa pandangannya buram akibat air mata.

“Jaka pergi, ya, Mak, Yah. Doain Jaka bisa balik lagi. Assalamualaikum,” pamitnya sambil berlalu meninggalkan kedua pusara orang yang amat ia sayangi.

TAMAT

Baca Juga: Si Anak Bertekad Baja /1/

Editor: Fadillah Hanum

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles