Aksi Berlangsung Ricuh, Polisi Lakukan Tindakan Pembubaran

- Advertisement - Pfrasa_F
(Kamerawan: Muhammad Fauzan Barokah)

Medan, Dinamika Online–Aliansi mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar aksi demonstrasi pada Selasa, 26 Agustus 2025 di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatra Utara (Sumut) dengan membawa 12 tuntutan. Aksi ini berujung kepada kericuhan, sehingga membuat Polisi menembakkan water canon dan gas air mata.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumut Irjen Pol. Whisnu Hermawan Februanto, S.I.K., M.H., meminta maaf kepada masyarakat yang tidak sengaja terkena tindakan polisi saat melakukan pengamanan dan pembubaran.

Baca Juga: Aliansi Mahasiswa USU Gelar Demonstrasi, Bawa 12 Tuntutan ke DPRD Sumut

“Saya di sini sebagai Kapolda mengucapkan maaf kepada wartawan atau masyarakat yang mungkin tadi kena batu, kepentung polisi, saya sebagai Kapolda meminta maaf. Saya yakin aparat tidak tahu,” ungkapnya.

Beliau menjelaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kebebasan berpendapat yang sudah diatur oleh undang-undang. Namun dikarenakan terdapat aksi perusakan, maka polisi melakukan tindakan pembubaran.

“Pertama, inilah hak warga negara memberikan pendapat di muka umum, diberikan hak sesuai undang-undang, Polri memberikan pengamanan sesuai undang undang. Sebelumnya, jam 08.00 WIB sampai dengan jam 18.00 WIB harusnya sudah bubar. Namun kita lihat tadi mereka merusak pagar, melempar petugas, maka dari itu, kita melakukan pembubaran untuk mereka,” jelasnya.

Lebih lanjut, beliau juga mengatakan bahwa ratusan personel polisi dikerahkan untuk mengamankan dan membubarkan massa. Ia juga menuturkan bahwa polisi akan melakukan pengamanan lanjutan, serta memproses demonstran yang diamankan.

“Situasi saat ini aman, dari personil tidak ada korban luka, untuk demonstran yang sedang diamankan masih dalam proses. Pada pengamanan ini melibatkan 800 personel kepolisian, selanjutnya polisi akan melakukan pengamanan dan patroli,” tuturnya.

Salah satu peserta aksi dari USU, berinisial A menyampaikan kekecewaannya atas kerusuhan yang terjadi. Ia menilai seharusnya massa dapat bersatu dalam tujuan yang sama, namun karena aksi kurang terkoordinasi justru menimbulkan kekacauan.

“Saya sangat menyayangkan kerusuhan yang terjadi, seharusnya massa bersatu dengan tujuan yang sama, sayangnya aksi tidak dapat terkoordinir dengan baik sehingga muncul kerusuhan. Saya kecewa kepada aparat yang melakukan pengamanan dengan cara anarkis, bahkan saya melihat rekan seperjuangan saya dipukulin, ditarik, dan tindak kekerasan lainnya,” ucapnya.

Baca Juga: Rayakan Alam, LPM Teropong UMSU Gelar Seminar Jurnalistik Lingkungan

Reporter: Nafiis Satria Pratama dan Hadist Sulistiawati

Editor: Ranum Aisyah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles