
Penulis: Rohma Mitra
Nikmat sehat dan waktu luang, dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia termasuk diri kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari No. 6412, dari Ibnu ‘Abbas).
Baca Juga: Addin 444: Ampunan Allah vs. Dosaku
Sudah menjadi hal umum bahwa waktu itu terus berjalan, sehingga terjadinya berbagai perubahan salah satunya perubahan yang terjadi pada dunia. Saat ini semakin berkembangnya zaman, maka semakin maju juga peradaban karena arus globalisasi menjadikan dunia yang berawalnya semua serba mandiri dan usaha, menjadi serba cepat dan canggih. Dunia modern membuat manusia harus bisa bersaing dalam arus globalisasi mengikuti tren mode hingga teknologi.
Segala hal yang telah berlalu menjadi hilang tak berjejak karena dianggap sudah tidak relevansi lagi dengan dunia modern saat ini. Lalu, bagaimanakah perilaku manusia yang telah diajarkan sejak dahulu dan turun temurun, apakah akan hilang juga tertelan waktu dan keadaan? Apakah akhlak akan tetap ada dalam setiap perjalanan perubahan dunia?.
Dari pertanyaan ini akan menghasilkan opsi jawaban “ya” atau “tidak”. Bila kita menganggap akhlak dengan dunia modern saat ini tidak relevan dan mengangap bahwa akhlak itu merupakan pembahasan yang sudah biasa, tidak penting, dan sudah kuno. Maka, kita SALAH.
Akhlak seperti halnya Al-Qur’an, Al-Qur’an menjadi kitab suci bagi seluruh umat Islam, dan tetap akan seperti itu hingga yaumil akhir, mengenai akhlak Allah Ta’ala memberikan pengajaran tentang Akhlak kepada seluruh umat secara khusus, yakni mengutus Baginda Rasulullah sebagai contoh teladan yang akan diikuti dan dipelajari oleh setiap orang.
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Baihaqi)
Dari hadist di atas kita tahu bahwa akhlak yang mulia memiliki posisi yang sangat penting dalam agama Islam. Oleh karena itu, Islam mengukur keimanan seorang hamba berdasarkan keutamaan-keutamaan yang ada pada dirinya, serta akhlak baiknya.
Dari sini dapat kita tarik benang merah bahwa akhlak menjadi orientasi penting yang harus ada pada setiap diri seseorang baik dalam mengahadapi perubahan waktu dan keadaan. Akhlak menjadi pembelajaran yang tidak pernah dihapus dan akan tetap ada, bahkan akhlak tidak seperti hukum yang mengalami perubahan dan pembaharuan. Akhlak akan tetap sama dalam pengamalannya dan pengajarannya, dengan adanya akhlak pada diri seseorang akan menjadi pondasi dasar untuk berperilaku terhadap diri sendiri dan orang lain. Terdapat ungkapan yang menyatakan mengenai akhlak kepada orang lain, “Satu hal yang tidak akan kamu sesali selamanya, adalah akhlak yang baik terhadap orang lain, meskipun mereka membalasmu dengan keburukan. Karena, orang yang utama di sisi Allah adalah yang paling baik akhlaknya”.
Bahkan, akhlak juga menjadi dasar dalam bertingkah laku kepada Allah ta’ala. Akhlak itu terdapat dua sisi, akhlak baik dan akhlak buruk, Al-‘Allamah Al-Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Rahimahumullah berkata mengenai barometer akhlak baik dan buruk, yaitu :
Akhlak yang Baik
Adalah engkau bergaul dan memperlakukan orang lain, sebagaimana kau ingin diperlakukan hal yang sama oleh orang lain.
Akhlak yang buruk
Adalah engkau bergaul dan memperlakukan orang lain, yang sebenarnya engkau tidak ingin orang lain memperlakukan hal yang sama padamu.
Nilai-nilai akhlak yang akan tetap relevan seiring modern-nya zaman, antara lain:
- Kejujuran, akhlak ini tetap relevan dalam menghadapi situasi kompleks dan serba cepat seperti saat ini. Kejujuran membangun kepercayaan diri sendiri dan orang lain. Serta, integritas yang menjadi hal sulit untuk didapatkan bila tidak memiliki kebiasaan pada diri sendiri untuk jujur.
- Sabar, dengan adanya sabar dapat membantu dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan pada setiap masa dan keadaan, dengan tenang dan ikhlas yang didapatkan seiring berjalannya waktu.
- Keadilan, dalam hubungan dunia modern yang terkoneksi luas dan beragam, keadilan dituntut menjadi landasan dalam membangun hubungan antarindividu dan antarnegara bahkan di setiap pekerjaan, perilaku, dan dalam pengambilan keputusan.
- Kesopanan, akhlak baik terhadap sesama ini sangat harus dibiasakan pada diri sendiri untuk dilatih dan diterapkan. Sopan santun pada setiap diri seseorang menjadi perhiasan indah yang akan disukai setiap orang. Al-imam Fudhail bin ‘Iyadh At-Tamimi rahimahullah berkata: “Seseorang yang berlemah lembut dan bergaul dengan tata krama pada orang di sekitarnya, itu lebih baik dari qiyamullail (sholat tahajud, dsb) dan berpuasa di siang harinya.”
Agar dapat membiasakan akhlak baik, maka akhlak harus diimplementasikan di kehidupan sehari-hari. Dimulai dari diri sendiri dan hal kecil yang dapat dilakukan setiap hari atau Istiqomah. Hal yang dapat dilakukan, di antaranya dengan membiasakan berbicara menggunakan kata-kata baik dan sopan, menghormati dan menjaga adab terhadap hubungan kepada setiap orang, serta membiasakan diri untuk berperilaku jujur, amanah dan bertanggung jawab.
Jadi, dalam dunia modern yang terus berkembang, pertanyaan tentang relevansi akhlak dan dunia modern itu adalah saling relevan dan akan tetap hingga dunia tidak dijadikan sebagai tempat tinggal lagi. Akhlak di dunia modern berperan dalam menghadapi perubahan sosial, teknologi dan kompleksitas di kehidupan saat ini. Akhlak menjadi panduan bagi kita semua untuk berperilaku dalam menghadapi tantangan didunia modern. Karena, pentingnya peran akhlak maka jawaban yang tepat mengenai, “Apakah akhlak dan dunia modern relevan? Makasih jawabannya adalah “Ya” dan cukup dengan akhlak mu saja, bisa membuat orang yang pertama kali melihatmu ingin melihatmu lagi. Wallahua’alamm bishawab.
Baca Juga: Addin 443: Membangun Kekuatan Mental dengan Strategi Islami untuk Mengatasi Stres dan Kecemasan
Biodata Penulis
Nama : Rohma Mitra
Jurusan : Pendidikan Bahasa Arab
Fakultas : FITK
Semester : IV
Nomor ponsel : 081262191386
Media sosial : Ig: @1209_rhmmtr
email : rohmamitra75@gmail.com
Editor: Annisa

