
Penulis: Tasya Devina Putri Harahap
Bangsa Arab pra-Islam biasanya disebut Arab jahiliah. Jahiliah berasal dari kata al-Jahl, yang artinya kebodohan. Berarti Arab jahiliah ini menggambarkan suatu bangsa yang belum berkeadaban, bodoh, dan belum mengenal aturan dalam kehidupan mereka.
Baca Juga: Addin 447: Memaafkan Itu dianggap Sedekah dan Tidak Akan Terputus Pahalanya
Dikarenakan bangsanya yang belum mengenal adab, peraturan, dan ilmu, maka wanita yang hidup pada zaman jahiliah ini diperlakukan sangat hina dan direndahkan. Wanita tidak bisa hidup tenang pada zaman ini. Para wanita dibenci kelahiran dan kehadirannya di dunia, terkhusus di bangsa Arab. Sehingga jika ada seorang ibu yang melahirkan bayi wanita, akan dikubur secara hidup-hidup. Jika pun wanita dibiarkan tetap hidup, maka mereka hidup dengan penuh derita dan tidak dimuliakan.
Apabila seorang wanita sudah tumbuh dewasa, mereka tidak memperoleh harta warisan. Lebih kejamnya lagi, mereka akan dilecehkan dan dijadikan budak hanya untuk pelampiasan pemuas hasrat dan syahwat semata. Isri-istri bebas ditiduri pada saat itu. Sehingga para wanita yang ingin mencari nafkah, bekerja sebagai alat pemuas nafsu laki-laki yang memiliki kasta tinggi pada zaman itu.
Ketika Nabi Muhammad Saw. lahir ke dunia, alam merahmati kelahirannya dan umat pun ikut gembira. Ketika Rasulullah beranjak dewasa, perlahan Rasulullah menyampaikan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi, hingga secara terang-terangan. Umat manusia seiring berjalannya waktu juga terbuka hatinya untuk menerima ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah, yaitu ajaran Islam. Dan pada saat itu juga, dunia terbebas dari penjara kebodohan. Umat manusia perlahan mengetahui bagaimana ilmu-ilmu Agama, hukum Islam, apa yang dilarang dan apa yang diperbolehkan. Sehingga kehidupan pada masa ini, jauh lebih teratur dibandingkan kehidupan pada masa jahiliah.
Jika pada zaman dulu wanita bebas dilecehkan dan disetubuhi, setelah datangnya Islam, wanita sangat dihormati dan dijaga auratnya. Bahkan Allah Swt. sampai menurunkan surah dalam Al-Qur’an khusus membahas tentang wanita, yaitu surah An-Nisa serta ayat-ayat lainnya yang membahas keterkaitan kepada wanita. Oleh karena itu, hal ini menggambarkan kaum wanita sangat dispesialkan dalam agama Islam. Lantas, yang menjadi pertanyaan untuk kita adalah bagaimana peran penting seorang wanita dalam agama Islam?
1. Peran Wanita sebagai Seorang Istri
- Taat Kepada Suami
Dalam Al-Qur’an, surah An-Nisa ayat 34, Allah Swt. berfirman, yang artinya: “Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka).”
- Menjaga Nama Baik Suami
”Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An-Nisa: 124).
Sebagai seorang istri yang salihah, sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga nama baik suaminya. Baik pada saat suaminya di rumah, maupun sedang tidak di rumah.
- Melayani Suami
”Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS. Al Baqarah: 223).
Melayani suami dalam segi apapun, termasuk melayani dalam hal syahwat suami.
2. Peran Wanita sebagai Seorang Ibu
Rasulullah Saw. bersabda: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?”, Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau. (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447).
Dari hadis ini menunjukkan bahwa Islam memuliakan dan mengangkat derajat wanita sebanyak tiga kali. Karena wanita memiliki tiga peran penting sebagai seorang ibu dan tidak akan bisa digantikan posisinya kepada seorang ayah. Tiga peran penting itu ialah, mengandung, melahirkan, menyusui. Di mana ketiga peran tersebut diperlukan pengorbanan, kekuatan dan kesabaran yang lebih.
3. Peran Wanita dalam Bermasyarakat
Selain berperan untuk keluarganya, seorang wanita juga berperan penting untuk masyarakat. Sebagai salah satu contohnya adalah, jika seorang wanita memiliki paham ilmu Agama yang lebih, maka dia harus memberikan pemahamannya kepada sesama wanita yang kurang memahami ilmu Agama. Dengan kata lain, dia berdakwah untuk mensyiarkan ajaran Islam. Dan tidak hanya dalam hal beragama, wanita yang memiliki keahlian dalam bidang apapun itu juga harus berperan dalam kemasyarakatan. Hal ini bertujuan untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat tersebut.
Ini juga bisa dijadikan sumber pendapatan bagi seorang wanita, untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Jika pada zaman jahiliah dulu wanita harus memenuhi hasrat syahwat seorang laki-laki setelah itu dibayar, untuk zaman sekarang ini wanita bisa memenuhi kebutuhannya dengan keahliannya masing-masing, baik itu ilmu, pikiran dan tenaga.
Begitu lah Islam sekarang yang sangat menjaga kehormatan wanita dan hal ini tentunya harus kita jaga juga dengan sebaik mungkin. Karena zaman dahulu, wanita tidak bebas dalam berkata dan bertindak, wanita tidak mendapatkan haknya. Oleh karena itu, pada masa sekarang ini hendaknya seorang wanita menjaga kehormatannya, karena mengingat beratnya perjuangan Rasulullah dalam memperjuangkan hak kaum wanita, agar tidak lagi dihina dan direndahkan
Biodata Penulis:
- Nama : Tasya Devina Putri Harahap
- Jurusan : Ilmu Hukum
- Semester : III (Tiga)
- Fakultas : Syari’ah dan Hukum
- Email : tasyadevina10@gmail.com
- Instagram: @tdphrp
Baca Juga: Addin 448: Peluang Seseorang dalam Meraih Kesuksesan
Editor : Aqlia Matslina Fattah


MasyaAllah ukhti.
Terimakasih ilmunya.
Maa Syaa Allah, tulisan ini untuk ku dan untuk perempuan-perempuan di luar sana🤍