
Penulis: Husnia Amro Sinaga
Dewasa ini, sering sekali menjadi titik balik yang penuh tantangan, merasa lelah, dan kehilangan arah. Rasanya seperti sedang terjebak di sebuah labirin yang entah di mana jalan keluarnya. Berkutat di tempat yang sama, tersesat berkali kali, terus berputar-putar, begitu terus berulang.
Baca Juga: Addin 450: Ikhlas yang Tertakar Takkan Mungkin Tertukar
Dalam waktu yang bersamaan, rasanya seperti sedang dikejar-kejar waktu agar segera menemukan jalan keluar, untuk segera bebas dari labirin ini dan melanjutkan kehidupan selanjutnya. Tetapi, hidup terus berjalan dan tidak peduli di manapun diri ini berada dan entah dalam keadaan seperti apa.
Sembari mencari jalan keluar, maka dengan sisa asa yang dipunya ternyata mengisi waktu dengan kegiatan positif dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Di labirin ini juga rasanya tidak seburuk itu. Sayangnya, yang orang-orang lihat, diri ini terlalu nyaman di dalamnya, sengaja tidak mau mencari jalan keluar.
Padahal, sudah sesusah payah dalam berupaya mencari segala cara untuk keluar, tetapi memang belum bertemu jalannya. Sedangkan, orang-orang itu hanya terus berisik dan sama sekali tidak membantu mencari solusi agar menemukan jalan keluarnya.
Pada akhirnnya, yang melelahkan bukan terus berputar-putar di labirin ini, tetapi mulut-mulut berisik yang seolah-olah tahu segalanya itu. Namun, kamu punya hak untuk istirahat dahulu. Tidak perlu memaksakan diri untuk berlari mengejar ekspetasi orang lain. Ini hanya dunia dan bukan perlombaan. Kenapa harus tergesa-gesa untuk larinya? Apalagi, sebenarnya garis finis tiap orang juga berbeda.
Kita sering merasa terburu-buru karena selalu dipaksa berlomba dengan standar capaian orang lain, benar bukan? Melelahkan sekali. Ditambah lagi, arena lari di dunia ini banyak lubangnya, banyak jalan terjalnya, dan banyak naik turun yang tidak pastinya. Jadi, tidak cukup hanya cepat tetapi juga harus cermat.
Tidak hanya memerlukan kecepatan saja, kita juga perlu berhati-hati, karena bisa jadi akhirnya kita jatuh terperosok dan sakit. Kita sendiri yang akan menerima konsekuensinya, bukan orang-orang yang mulutnya terlalu berisik untuk memaksa kita menyelesaikan ini dan itu dengan segera.
Namun kesabaran mampu membawa kita berjalan sejauh ini karena kesadaran, kesabaran, serta keyakinan bahwa pertolongan Allah itu nyata. Allah Berfirman:
“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung.” (QS. Al-Imran : 173).
Di dunia ini kita hidup saling berdampingan, dan tentu saja akan selalu ada jenis manusia yang mudah saja menghakimi seseorang. Sering kali dipertemukan manusia yang memandang seseorang, seperti pemalas dan jorok hanya karena teras rumahnya berserakan dedaunan kering yang jatuh. Padahal, baru saja menyandarkan sapu dan pengki, dan ini sudah kesekian kalinya ia menyapu dedaunan kering di terasnya. Tetapi, karena angin berhembus sangat kencang, membuat dedauanan kering yang baru saja jatuh dari pohon langsung menghambur ke dalam teras. Seketika teras kembali penuh dengan dedaunan yang berserakan.
Manusia-manusia yang suka menghakimi itu, tentu saja tidak peduli dengan angin kencang yang datang. Tidak mau tahu pula bahwa sebelumnya teras sudah disapu berulang. Sebatas menilai dari apa yang ia lihat saat teras sedang dipenuhi dedaunan kering saja, dan sebatas itu saja. Selalu ada jenis manusia demikian, menilai segala sesuatu sebatas yang ia lihat tetapi berkomentar seperti yang paling tahu segala sesuatunya.
Akan ada yang selalu salah paham, berpikiran yang bertolak belakang dari pribadi yang kita maksudkan. Dan apakah selalu perlu untuk menjelaskan? Ah, kurasa tidak. Capek, lebih baik tenaganya dipakai untuk menyelesaikan sesuatu yang diusahakan. Dan akan selalu dipertemukan oleh manusia yang merubuhkan pertahanan kita, perkataan-perkataan demikian yang merusak mental kita, namun kita bisa mengontrol semuanya dengan sabar ketika tujuan kita adalah “Bertuhan Untuk Bertahan.” Karena setiap orang ada masanya, tetapi dalam keadaan apapun Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya. Allah berfirman:
“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau, dan tidak (pula) membencimu.” (QS. Ad-Dhuha : 3).
Kamu sangat khawatir terhadap manusia yang akan meninggalkanmu sehingga kamu tetap memperlakukan setiap manusia dengan baik, memaklumi seseoang sampai berulang kali agar semuanya baik-baik saja. Namun pada akhirnya, merekalah penyebab sakitmu dan penyebab dari pertahananmu yang runtuh. Jika mengungkapkannya, kamu akan terlihat jahat.
Namun sejak saat itu terjadi kamu tidak perlu menyendiri, mengurangi berinteraksi dengan manusia manapun agar tidak dicap sebagai orang yang alergi berinteraksi, tetapi jika tujuanmu adalah untuk mengobati luka-lukamu sendiri, maka lakukanlah. Karena, sejak awal tidak ada yang datang memberikan perban agar darahnya tidak banyak keluar, mereka hanya bertanya untuk menemukan jawaban dari beberapa tanda tanyanya saja, lalu meninggalkanmu. Sementara, Allah langsung menjadikan lukamu bentuk penghapusan dosamu.
“Tidaklah seseorang muslim yang tertimpa cobaaan berupa sakit maupun selainnya, melainkan dihapuskan oleh Alllah dosa-dosanya. Seperti sebatang pohon yang menggugurkan daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sering sekali kita merasa tidak adil, padahal dalam kesulitan apapun satu-satunya yang tidak meninggalkan kita adalah Allah Swt. Namun, kadang kita menyalahartikan sesuatu yang sudah digariskan pada kita. Jika saja, kita tetap bertahan menjadi manusia yang lebih memperdulikan perasaan orang lain yang memberikan dampak yang tidak sehat dikehidupan kita, disitulah kita mulai kehilangan arah. Tetapi, jika kita sudah benar-benar memantapkan hati menjadikan Allah sebagai rumah, hujan badai seperti apapun tidak akan berani membasahi kita.
Jadilah manusia yang bertuhan untuk bertahan, manusia yang diam-diam membangun rumah di surga, dengan pondasi yang juga dibangun diam-diam melalui gelaran sajadah di tengah manusia lain yang sedang terlelap. Tangan yang menengadah dengan niat disertai air mata berderai, mulutnya yang selalu berisik berteriak minta maaf atas segala dosa yang diperbuat, serta menolong manusia yang kesulitan untuk memperindah pondasi bangunan rumah impiannya di surga.
Biodata Penulis:
- Nama : Husnia Amro Sinaga
- Jurusan : Komunikasi dan Penyiaran Islam
- Fakultas : Dakwah Dan Komunikasi
- Semester : VII
- Instagram : arsng_, & amrosinaga
Baca Juga: Addin 449: Memaknai Peran Wanita dalam Pandangan Islam
Editor: Annisa


Terimakasih, setelah membacanya,
Saya termotivasi untuk bangkit, lebih mencintai diri sendiri dan lebih dengan dengan yang menciptakan😇