Addin 452: Larangan Merayakan Natal dan Tahun Baru bagi Umat Islam

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Sigit Bahuraksa)

Penulis: Fahira Rahmah Hani

Di berbagai negara, merayakan Natal dan tahun baru telah menjadi tradisi yang sangat populer, bahkan dalam masyarakat yang mayoritas Muslim. Namun, sebagai umat Islam, kita harus memahami bahwa merayakan kedua perayaan tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Baca Juga: Addin 451: Bertuhan untuk Bertahan

Larangan Merayakan Natal dalam Islam

Natal adalah hari raya yang dirayakan oleh umat Kristen untuk memperingati kelahiran Isa Al-Masih (Yesus), yang mereka yakini sebagai anak Tuhan. Sebagai umat Islam, kita menghormati Nabi Isa sebagai nabi Allah, tetapi kita tidak boleh mempercayai bahwa Isa adalah Tuhan ataupun anak Tuhan.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 72: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam.’ Padahal Al-Masih (Isa) sendiri berkata: ‘Wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya adalah neraka. Tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 72).

Dalam ayat ini menegaskan bahwa keyakinan akan Isa sebagai anak Tuhan adalah suatu bentuk kekufuran dan kesyirikan dalam Islam. Oleh karena itu, merayakan Natal, yang merupakan perayaan kelahiran Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan, bukanlah bagian dari ajaran Islam.

Sebagai umat Islam, kita harus berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam keyakinan yang bertentangan dengan tauhid (keesaan Allah). Ikut merayakan Natal bisa jadi dianggap sebagai bentuk mengikuti tradisi agama lain yang dapat memengaruhi akidah. Hal ini bisa melemahkan keyakinan kita akan keesaan Allah dan menjauhkan kita dari prinsip-prinsip tauhid yang mendalam.

Telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 168: “Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 168).

Adapun ayat lain yang menegaskan hal ini terdapat dalam surah Al-Kafirun ayat 6, “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” (Q.S. Al-Kafirun [109]: 6).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa sudah seharusnya kita berpegang teguh pada agama masing-masing dengan tidak mencampuri satu sama lain. Selain itu, ajaran Islam juga sangat menegaskan tentang tidak boleh mengikuti perayaan agama lain, hal ini bertujuan untuk menjaga umat Islam agar tetap berada di jalur yang benar, sesuai dengan syariat yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Banyak kalam Allah yang menyeru untuk tidak mengikuti langkah-langkah setan, seperti dalam Surah An-Nur ayat 21: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan menyuruh melakukan perbuatan keji dan mungkar.” (Q.S. An-Nur [24]: 21).

Larangan Merayakan Tahun Baru dalam Islam

Tahun baru bukanlah perayaan yang berasal dari ajaran Islam. Meskipun perayaan ini lebih bersifat umum, banyak orang yang merayakannya dengan cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, seperti pesta, minuman keras, dan berbagai perilaku yang kurang baik. Islam mengajarkan umatnya untuk memperingati hari-hari tertentu yang sudah ditentukan, seperti Idulfitri, Iduladha, dan bulan Ramadan.

Telah Allah sampaikan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 185: “Hari-hari yang ditentukan itu, adalah waktu yang ditentukan oleh Allah, maka janganlah kamu mengurangi atau menambahinya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 185).

Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa tidak ada dasar dalam Islam untuk merayakan pergantian tahun. Sebaliknya, kita diajarkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah dan perbuatan baik di setiap hari, bukan dengan merayakan perayaan yang tidak ada hubungannya dengan agama kita.

Tahun baru sering kali dirayakan dengan cara yang tidak islami, seperti pesta yang berlebihan, minum alkohol, bersenang-senang tanpa batas, dan bahkan tindakan yang bisa menjerumuskan ke dalam dosa. Islam melarang umatnya untuk terlibat dalam perilaku seperti itu, karena itu hanya akan menambah kesia-siaan dan pemborosan yang dilarang oleh Allah.

Telah jelas Allah sampaikan pemborosan adalah temannya setan, seperti dalam Surah Al-Isra` ayat 27: “Sesungguhnya pemborosan itu adalah perbuatan saudara-saudara syaitan, dan syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 27).

Selain itu, Islam juga mengajarkan untuk fokus beribadah dan melakukan kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak ibadah dan amalan baik di setiap hari, termasuk di awal tahun, agar bisa meraih ampunan dan keridaan Allah. Merayakan Natal dan tahun baru adalah tradisi yang berasal dari agama lain dan tidak ada dasar hukumnya dalam ajaran Islam.

Umat Islam harus menjaga keimanan dan akidahnya agar tidak terpengaruh oleh budaya atau perayaan yang bukan milik kita. Sebagai gantinya, kita harus fokus pada ibadah dan perbuatan baik yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Saw.

Allah berfirman dalam Surah Al-Imran ayat 133, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-imran [3]: 133). Dari ayat ini mengajak umat Islam untuk segera berusaha meminta ampunan dari Allah agar mendapatkan Surga yang seluas langit dan bumi.

Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk selalu berhati-hati dalam mengikuti tradisi atau perayaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama kita. Islam mengajarkan kita untuk tidak mengikuti langkah-langkah setan dan untuk selalu menjaga kesucian akidah kita.

Dengan memahami larangan ini, kita dapat makin kuat menjalani kehidupan sesuai dengan syariat Islam, tanpa tergoda untuk merayakan hal-hal yang tidak diperbolehkan dalam agama kita. Semoga Allah memberi petunjuk dan kekuatan kepada kita semua untuk selalu mengikuti jalan yang benar.

Baca Juga: Addin 450: Ikhlas yang Tertakar Takkan Mungkin Tertukar

Biodata Penulis: 

Nama     : Fahira Rahmah Hani

Jurusan  : Komunikasi dan Penyiaran Islam

Fakultas  : Dakwah dan Komunikasi

Semester : V

Instagram: @fahirahani

Editor       : Syahda Khairunnisa 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles