Addin 457: Rasa Malu Sebagian dari Iman

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Muhammad Ihsan)

Penulis : Alya Dwi Kinanti

Malu adalah bagian yang sangat bernilai dan berharga dalam Islam. Meski banyak yang menanggapi sifat malu adalah hal yang berarti menunjukkan kelemahan. Padahal dalam Islam, orang-orang yang memiliki sifat malu adalah orang-orang yang Allah sukai, terutama perempuan yang memiliki rasa malu yang tinggi, malu berbicara kasar dan kotor, malu membuka aurat kepada yang bukan mahram, malu bersentuhan dengan yang bukan mahram, dan malu berlaku yang tidak layak.

Baca Juga: Addin 454: Emansipasi dan Tradisi Kesetaraan Perempuan dalam Islam

Malu adalah sifat tunduk dan hormat kepada Allah. Malu juga termasuk malu untuk melanggar perintah-Nya, malu berbuat yang tidak seharusnya kepada Allah, malu berkata-kata yang buruk pada Allah, rasa malu kepada Allah akan menghasilkan rasa malu terhadap diri sendiri dan orang lain. Malu mengarah pada perbuatan sosial, norma-norma, kehormatan dan kesucian diri.

Malu tidak menyakini kebesaran Allah adalah rasa malu ketika berbuat hal yang tidak disenangi-Nya. Malu muncul dari pemahaman tentang agama dan dosa serta mengetahui konsekuensinya agar menghindari perbuatan dosa karena takut akan siksaan Allah di akhirat, malu juga berasal dari kesadaran akan berkah dan rahmat Allah, sehingga menjaga keberkahan dan rahmat yang Allah berikan.

Banyak sifat malu yang bisa dijaga dalam kehidupan, dimulai dari malu kepada diri sendiri untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak pantas, menjaga diri sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai agama serta mencegah diri dari hal yang memalukan. Malu itu akan menjaga keharmonisan dan kerukunan dalam bermasyarakat dan berperilaku kepada orang lain.

Dari Abu Mas’ud, yaitu Uqbah bin Amar al-Anshary al-Badry, ra, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya apa yang telah dijumpai oleh manusia dari kalam Nubuwah yang pertama ialah; Kalau engkau tidak malu maka berbuatlah sekehendakmu”. (HR. Bukhari).

Malu dianggap sebagai sifat yang negatif yang ada pada karakter manusia karena bagi sebagian orang sifat malu adalah sifat yang buruk dan tidak baik karena tidak berani melakukan sesuatu dan mengambil sikap. Orang yang pemalu cenderung dijauhi dan dianggap tidak baik karena bagi mereka tidak biasa diandalkan, padahal orang yang pemalu adalah orang yang berusaha menjaga diri nya sendiri dari sesuatu yang tidak baik, menjaga dirinya agar tidak menyakiti orang lain dengan sikap yang sembarangan.

Pandangan orang lainlah yang membuat seorang pemalu akhirnya enggan mendekat dan membuka dirinya kepada mereka, banyak dari sebagian orang yang tidak mengerti apa sebenarnya arti malu itu. Sifat malu di zaman sekarang sudah sangat susah ditemukan pada diri manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan.

Banyak dari mereka yang terang-terangan melakukan dosa di depan umum tanpa rasa bersalah dan malu terhadap sekitarnya dan pada Allah. Padahal Allah senantiasa selalu melihat mereka yang sendirinya tidak malu berkata-kata yang kasar dan kuat di tempat yang tidak seharusnya, tidak malu mencela dan mempermalukan orang lain di khalayak ramai, padahal hal itu sangat dilarang dalam Islam, tidak malu mencaci maki seseorang di mana-mana, tidak malu mencegah yang buruk dan menolak yang baik.

Miris melihat perempuan zaman sekarang yang banyak telah kehilangan rasa malunya, rasa malu untuk menutup aurat dan menjaga kehormatan diri, bahkan banyak dari mereka yang dengan mudah-mudahnya menawarkan dirinya dan tubuhnya pada laki-laki yang bukan mahram hanya demi kesenangan dunia dan harta tanpa takut balasan dari Allah. Padahal dahulu Rasulullah mati-matian mengangkat derajat wanita hingga akhirnya surga diletakkan dibawah kakinya.

Perempuan itu suci, mahluk yang sangat Allah jaga kehormatannya dan tinggi harga dirinya, hingga Allah memerintahkan mereka untuk menutup aurat dari ujung rambut hingga ujung kaki untuk melindungi dan menjaga dirinya dari perbuatan yang tidak baik, menjaga dirinya dari kemungkaran pikiran dan nafsu ajnabi, meletakkan rasa malu yang tinggi pada perempuan yang salihah dan baik.

Laki-laki zaman sekarang pun sudah banyak sekali yang tidak bisa menjaga kehormatan dirinya dan kehormatan seorang perempuan, dia rusak perempuan itu demi kesenangan dan memuaskan nafsunya, perempuan yang seharusnya dia lindungi dan jaga dia pengaruhi dengan begitu mudahnya apalagi dengan kata cinta dan sayang yang padahal sebenarnya hal itu sangat haram di dalam Islam.

Padahal banyak cara untuk menerapkan rasa malu dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, menghormati diri dan orang lain, cara ini adalah cara terpenting dan termudah dan kehidupan sehari-hari. Kedua, menjaga tindakan dan tutur kata baik itu pada diri sendiri dan orang lain, memperhatikan cara bicara dan tindakan agar sesuai dengan nilai-nilai islam yang telah diajarkan, ketiga, berpakaian sopan dan menutup aurat juga merupakan wujud dari pernyataan menjaga rasa malu.

Malu juga membantu individu untuk menjaga kesucian, menghindari perbuatan-perbuatan buruk, serta memelihara keharmonisan dalam masyarakat. Malu bukanlah tanda kelemahan, tetapi merupakan bagian integral dari iman dalam Islam. Dengan memiliki malu, seseorang akan cenderung untuk menghormati diri sendiri, orang lain, dan norma-norma sosial. Oleh karena itu, penting bagi umat muslim dan muslimat untuk memahami dan menerapkan nilai malu dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari perjalanan keimanan mereka.

“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya diangkat maka, yang lain pun akan terangkat.” (HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi).

Baca Juga: Addin 453: Hari Ibu bukan Sekadar Satu Hari Saja

Editor: Ranum Aisyah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles