
Penulis: Tondini Alief Harahap
Bagi segelintir muda-mudi di perkuliahan, Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan hal yang dinantikan dan menjadi momen yang cukup berkesan selama menjadi mahasiswa. Bagaimana tidak, akan ada banyak hal yang terjadi selama pelaksanaan KKN nanti. Mulai dari menjalani program kerja bersama hingga melakukan aktivitas sehari-hari dengan jangka waktu yang cukup panjang.
Saat ini Mahasiswa UIN SU Stambuk 2020 sedang berada di euforia menuju KKN yang diestimasikan pada Agustus mendatang. Informasi terbaru disampaikan oleh pihak Pengabdian kepada Masyarakat—yang dalam hal ini menaungi proses KKN mahasiswa—bahwa tahun ini mengusung konsep baru, di mana kamu bisa memilih teman dan lokasinya sendiri dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Salah satu syarat guna bisa mengajukan pendaftaran kelompok KKN adalah dengan memenuhi elemen delapan fakultas dan jumlah laki-laki minimal sepuluh orang dalam satu kelompok. Nah, di sinilah gundah-gulana mencuat. Pasalnya, kasus yang ditemui di tengah-tengah mahasiswa angkatan 2020 adalah jumlah lelakinya yang tidak sebanding dengan jumlah perempuan.
Baca Juga: UIN SU Mengabdi Rancang Sistem KKN Terbaru
Hal tersebut menjadi kegelisahan angkatan ini yang sedang gencar melakukan perekrutan anggota KKN. Lebih menariknya lagi, tanpa disadari jiwa kreativitas mahasiswa meningkat guna berlomba-lomba mempromosikan kelompok KKN-nya masing masing, bahkan ada yang sampai buat flyer open recruitment layaknya perekrutan kerja.
Sebenarnya, seberapa langka “akhi-akhi” di UIN SU ini sehingga banyak sekali kawan-kawan yang curhat di status WhatsApp-nya dengan kesulitan mencari kawan laki-laki untuk kelompok KKN. Ataukah memang pengklasifikasiannya yang terlalu sulit hingga belum didapati yang pas, seperti kriterianya yang harus manis, bisa mengaji, rajin salat, gemar ibadah, serta tinggi dan cerdas. Jika iya, kriteria tersebut lebih mendekati kriteria pencarian jodoh.
Sepertinya ada beberapa faktor yang menyebabkan sulitnya menemukan “akhi-akhi” dengan jumlah yang cukup banyak di UIN SU. Contoh, tidak adanya jurusan di UIN SU yang pada umumnya didominasi pria, seperti teknik dan sebagainya, yang biasanya di kampus lain menjadi “markas” kaum pria.
Penulis pun juga menyadari, memang seringnya jumlah laki-laki terlihat minim dibandingkan dengan jumlah perempuan yang cukup masif di Kampus UIN SU, baik Kampus I, Kampus II, ataupun Kampus IV. Hal itu juga menjadi satu faktor yang menyulitkan kawan-kawan mencari “akhi-akhi” guna memenuhi kuota pengajuan kelompok KKN.
Jujur, baru kali ini rasanya laki-laki berada di posisi diperebutkan setelah selama ini dianggap semuanya sama di mata para perempuan. Untuk kali ini, guna mengisi kuota kelompok KKN semua rela war untuk mendapatkan mereka. Saya bisa menebak, pasti hampir setiap hari notifikasi WhatsApp para lelaki stambuk 2020 ini ramai dengan ajakan bergabung di kelompok. Pada senang, ‘kan, dihubungi sama mahasiswi? Akan tetapi, jangan senang dulu, Kawan. Notifikasi itu bukan berarti kamu ganteng atau mungkin saleh, barangkali mereka menghubungimu karena sedang butuh “akhi-akhi” di kelompoknya.
Terlepas dari semua itu, bagi kawan-kawan yang akan melaksanakan KKN sebentar lagi, semoga berjalan lancar dan selalu dikaruniai kesehatan. Implementasikanlah ilmu yang sudah ditempuh di bangku perkuliahan itu untuk masyarakat. Harapan penulis, kawan-kawan bisa terus menjaga nama baik almamater selama proses KKN berlangsung. Semoga banyak kabar baik yang terdengar setelah ini, amin.
Baca Juga: Apa Kabar Demokrasi UIN SU? /1/
Editor: Rika Wulandari

