
Penulis: Fahira Rahmah Hani
Pada awal tahun 2024, rupiah makin melemah dan menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hanya mencapai Rp16.241 per dolar AS, sehingga memicu keresahan masyarakat.
Baca Juga: Gen Z Diprediksi akan Jadi Generasi Orang Tua Terbaik, Benarkah?
Nilai tukar yang melemah pastinya terjadi karena beberapa faktor pendukung yang saling berkaitan. Pertama, The Fed atau Bank Sentral AS menaikkan suku bunga dengan tujuan untuk menekan inflasi yang tinggi. Hal ini terjadi karena adanya tekanan eksternal dari kebijakan moneter AS.
Kedua, akibat perang yang terjadi dibeberapa negara turut memperkeruh keadaan. Seperti memanasnya perang antara Iran-Israel, perang di Ukraina serta sanksi terhadap Rusia, dan hal lainnya yang berdampak pada penurunan harga komoditas ekspor Indonesia seperti batu bara dan sawit.
Kemudian, defisit neraca perdagangan Indonesia menjadi faktor pendorong dengan meningkatnya nilai impor yang tidak sebanding dengan nilai ekspor. Hal ini juga pemicu permintaan dolar AS meningkat, sehingga menekan nilai rupiah.
Menguatnya nilai dolar AS dan melemahnya nilai rupiah memiliki dampak terhadap para pelaku bisnis yang membutuhkan bahan baku usahanya dari impor, dan pastinya memerlukan dana yang lebih besar dari biasanya.
Adapun upaya membantu penguatan nilai rupiah, dilansir dari situs resmi OJK, meskipun penurunan nilai rupiah menjadi tanggung jawab pemerintah, akan tetapi warga Indonesia juga dapat membantu pemerintah mengatasi permasalahan ini.
Upaya pertama yang bisa dilakukan untuk membantu nilai rupiah menguat adalah dengan membeli produk dalam negeri. Masyarakat Indonesia harus mengurangi atau bahkan menghindari membeli produk impor agar rupiah makin menguat.
Warga diharapkan lebih memilih produk buatan dalam negeri. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan menunda membeli handphone atau barang elektronik lainnya yang sebagian besar adalah barang impor.
Kemudian upaya selanjutnya dengan bepergian menggunakan transportasi umum, maka dapat menghemat pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM). Jika menghemat BBM, berarti pemerintah juga mengurangi jumlah impor BBM, sehingga cadangan devisa dapat dipakai untuk kebijakan lain. Cara ini menjadi hal yang sederhana untuk membantu menguatkan rupiah.
Tidak hanya itu, warga Indonesia diharapkan menahan keinginannya untuk jalan-jalan ke luar negeri. Mereka diharapkan berwisata di dalam negeri untuk mendorong pengembangan sektor pariwisata dalam negeri dan mempercepat penerimaan devisa negara. Sehingga dapat mendorong stabilitas kurs dalam jangka pendek.
Terakhir, dengan upaya mengekspor barang ke luar negeri, melemahnya nilai rupiah menjadi momen masyarakat Indonesia yang ingin mengekspor barang dagangannya ke luar negeri. Misalnya dengan mengekspor produk kerajinan tangan asli Indonesia yang sudah dikenal luas di luar negeri. Dengan demikian, ekspor produk dapat membantu pemerintah untuk mengumpulkan devisa negara.
Dengan melakukan cara sederhana tersebut dan adanya kerja sama serta upaya bersama dari pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, rupiah diharapkan dapat kembali stabil atau bahkan makin kuat seperti pada masa kepemimpinan B.J. Habibi.
Baca Juga: Galau vs. Organisasi

