Gen Z, Generasi si Paling Work Life Balance

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet firstreport.news)

Penulis: Dina Febriyanti

Generasi Z atau biasa disebut Gen Z adalah mereka yang lahir pada kisaran tahun 1997–2012. Pada tahun 2024 ini, Generasi Z tertua sudah mulai dan akan memasuki dunia kerja. Bisa dibilang, Gen Z ini adalah anak baru di lingkungan atau dunia kerja. Jadi, tidak mudah menjadi yang paling muda di antara yang lain dengan banyaknya tantangan baru yang akan mereka hadapi.

Baca Juga: Sastra Masuk Kurikulum: Cerdas Akademis, Mengais Nalar Kritis

Namun, seperti yang kita ketahui, banyak pendapat dan pandangan negatif mengenai generasi ini. Mereka dikenal manja, pemalas, dan mudah menyerah. Mengingat bahwa mereka adalah generasi yang hidup dengan melewati masa pandemi hingga memasuki new normal seperti sekarang. Selain itu, perkembangan teknologi yang membuat mereka menjadi lebih mudah mengakses segala hal.

Namun, apakah pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa Gen Z adalah pemalas merupakan kebenaran? Realitasnya apa seperti itu? Melihat dari data Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat, per tahun 2023, tercatat banyaknya remaja bekerja sambilan di negara tersebut sejak 2009, yaitu sebanyak 250 ribu orang. Lalu, diprediksi pada tahun 2025, Gen Z akan menguasai 27 persen angkatan kerja, artinya di masa depan Gen Z yang akan memiliki peran terbanyak dalam dunia kerja.

Tidak hanya itu, Gen Z adalah anak-anak yang memiliki antusias dalam bekerja, serta mereka memiliki ambisi yang besar. Berbeda dengan pendahulunya, yaitu para Generasi Milenial yang dicap sebagai generasi egois, kaku, dan keras. Gen Z adalah kebalikan dari generasi sebelumnya. Namun, banyaknya keluhan yang dapat kita dengar mengenai Gen Z yang dianggap lembek atau tidak tahan banting. Mereka tidak tahan bekerja dalam waktu yang lama. Ini juga yang menjadi penyebab kenapa Gen Z disebut sebagai pemalas.

Gen Z menerapkan work life balance atau dapat dikenal dengan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Gen Z membentuk budaya kerja dengan work life balance, yang berfokus pada kesehatan tubuh, mental, dan kesejahteraan diri. Mereka lebih memilih pekerjaan yang fleksibel dan dapat dikerjakan di mana dan kapan saja. Hal ini dikarenakan mereka tidak ingin seperti generasi sebelumnya, yang hidup di dalam lingkungan kerja yang penuh tekanan dan toxic, sehingga membuat mereka selalu merasa lelah tubuh dan mentalnya. Bagi Gen Z, keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan adalah hal yang penting. Inilah mengapa mereka tidak suka bekerja dalam waktu yang lama, karena dengan waktu pekerjaan yang lama, dapat membuat mereka tidak memiliki waktu untuk bersosialisasi, mempelajari hal-hal baru, dan berlibur atau bersantai. Tidak hanya mengenai waktu pekerjaan saja, Gen Z juga memprioritaskan gaji dan menghargai setiap kemampuan orang lain. Bagi mereka, gaji yang didapatkan harus sesuai dengan apa yang mereka berikan atau kerjakan.

Work life balance yang diterapkan oleh Gen Z tidak hanya untuk mencapai keuntungan mereka sendiri, melainkan dengan ini mereka menunjukkan kepada seluruh masyarakat bahwa era baru telah dimulai. Mereka menuntut penghargaan atas hal-hal kecil yang telah dilakukan setiap manusia kepada manusia lain, serta memprioritaskan kebahagiaan, juga kesehatan diri.

Bagi Gen Z, tujuan bekerja adalah sebagai penunjang aktualisasi diri, artinya mereka bekerja untuk membiayai kebutuhan, untuk belajar hal baru, menambah keterampilan, serta berlibur. Bagi mereka, bekerja itu untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Era baru yang telah dimulai oleh Gen Z ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup semua orang.

Baca Juga: Menikmati Pesona Sigura-Gura: Sekali Dayung, Dua Tiga Objek Wisata Diarungi

Editor       : Fadillah Hanum

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles