
Penulis: Ikram Muharril
Tidak dapat dipungkiri beragam pilihan hidup yang harus dijalani, ternyata begitu menguras penat dan letih. Beragam tanggung jawab, terkadang menjadi rantai yang berputar dalam kepala. Maka tidak heran, kesehatan mental perlahan mulai menjadi tanda tanya besar. Segelintir pertanyaan menjadi apa dan harus bagaimana ke depannya, menjadi suntikan yang menyerang kepala. Jika berkaca dalam rutinitas sehari-hari yang ada.
Baca Juga: Atasi Badmood dengan Makanan Ini!
Kita dapat melihat tingginya angka depresi di kalangan masyarakat. Tidak perlu terungkap dengan alasan apa seseorang menjadi seperti itu, berjuang tanpa sepengetahuan orang yang diperjuangkan sudah cukup bagi mereka untuk bertahan hidup.
Pelataran Indomaret perlahan mulai menjadi pemeran pengganti. Bukan dengan menyajikan makanan gratis, bukan dengan belanja dengan diskon besar-besaran, melainkan dengan menambah fasilitas bangku yang ada, semakin menambah daya tarik bagi sebagian orang. Terkhusus, bagi sebagian dari mereka yang memendam segalanya dalam pikiran, memilih duduk di bangku Indomaret dengan merenung sejenak adalah pilihan.
“Psikiater Mahal, karena itu Indomaret menyediakan kursi di depan”
Beberapa platform sosial media juga beredar tayangan tagline seperti di atas. Para netizen juga turut antusias meramaikan tayangan serupa. Ini seperti suatu indikasi, jika sebagian dari netizen merasakan hal yang serupa dalam kehidupan masing-masing. Mengacu pada bangku Indomaret, orang-orang hanya mengeluarkan uang sedikit, duduk sendiri entah bersama camilan atau rokok sebagai pendamping, mampu menjadi alternatif sebagai terapi.
Kelakuan seperti duduk di kursi Indomaret, merupakan bentuk refleksasi diri, bersamaan dengan waktu mencoba melepaskan pikiran dari setumpuk stigma dan praduga yang ada. Tentu, ini adalah hal yang wajar saat di mana seseorang melepaskan emosi yang bergelinjang di kepala. Musik dan pemandangan langit yang indah menjadi siaran bonus untuk menciptakan kembali gairah semangat.
Meski demikian, pada hakikatnya bangku Indomaret tidak memiliki makna apa-apa. Gerai hanya menambah fasilitas bangku untuk menambah sensasi kenyamanan. Terlepas dari situ, sudut pandang sebagian orang memberi makna yang begitu mendalam hingga membentuk kerangka dalam pikirannya, beranggapan jika telah duduk di sana, apapun yang menjadi gemuruh dalam kepala berangsur mereda.
Hal ini, jelas sama sekali tidak mencerminkan pribadi yang konsumtif dengan melakukan aktivitas jual-beli. Melainkan, sisi positif yang diambil adalah dapat menjadikan kita pribadi yang lebih Independent dalam menghadapi setiap masalah yang tiba. Tidak berisik dengan berkicau di ruang internet, dengan memberi serangakaian kode di linimasa status. Meski dengan cara duduk termenung di Indomaret, ini bukanlah sepenuhnya cara efektif karena apapun masalah yang ada bermuhasabah dengan Pencipta adalah hal yang sangat dianjurkan.
Di samping itu, produk kopi juga turut terseret dalam skema cerita bangku Indomaret. Masyarakat lokal yang identik dengan pecinta kopi turut menemani perenungan di bangku Indomaret. Omset yang perlahan meroket juga berimbas pada roda perputaran ekonomi. Namun, untuk saat ini tetap menjaga diri dari berbagai persoalan hidup adalah langkah yang tepat.
Tidak peduli seberapa besar masalah apa yang datang, tetap bertahan hidup adalah kuncinya. Perbaiki koneksi dengan Tuhan adalah langkah paling awal. Terbentur, terbentuk, lantas perbaiki semuanya dengan strategi yang jitu. Meski tidak begitu, membenarkan untuk memendam segala argumen buruk berdiam diri di kepala sendirian.
Baca Juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Tempat Kerja untuk Produktivitas
Editor: Aqlia Matslina Fattah

