Jalur Gaib untuk Mendapat Bantuan Kartu Indonesia Pintar

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet kaskus.co.id)

Penulis: May Hasanah

Kartu Indonesia Pintar (KIP) merupakan sebuah program bantuan dari pemerintah guna mendukung keluarga yang tidak mampu serta memiliki anak-anak yang berprestasi baik secara akademik maupun nonakademik. Ribuan anak terkhusus yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Indonesia, berebut mendapatkan bantuan dari pemerintah tersebut. Sebab, program tersebut memiliki dana bantuan yang cukup besar jumlahnya.  Ada yang benar-benar butuh, sekadar butuh, ada pula yang sekadar coba-coba.

 Awalnya semua pendaftar mengikuti seleksi yang sama, di samping itu pula masing-masing dari mereka memilih jalurnya sendiri. Jalur yang dipilih untuk mendapatkan bantuan tersebut berbeda-beda.  Ada yang menggunakan jalur kejujuran, ada yang pakai jalur langit, ada yang jalur orang pintar, dan ada pula jalur orang dalam. Jalur yang sudah menjadi hal biasa di negeri kita tercinta ini ialah jalur orang dalam. Jalur orang dalam ini bagaikan jalur gaib untuk mendapatkan Beasiswa KIP Kuliah. Katanya, jalur ini aman dan bebas hambatan. Bagaimana bisa? Terbukti dari banyaknya pengguna jalur ini yang lolos dengan mudah.

Seleksi berkas seolah hanya formalitas belaka, padahal hasilnya sudah ditetapkan. Jalur ini juga banyak macamnya, ada yang karena nepotisme, dosen, maupun guru yang katanya orang dalam tersebut. Tentu saja tidak gratis. Ketika memakai jalur ini, terdapat uang jutaan rupiah yang harus diberikan kepada si orang dalam.

Baca Juga: Dampak Positif dan Negatif Media Sosial pada Kesehatan Mental

Mereka yang sebelumnya memakai jalur darat dan langit, kemudian beralih ke jalur orang dalam. Meski begitu, mereka tetap kalah dengan si kaya yang merupakan kerabat si orang dalam dan bisa memberikan uang lebih banyak. Ketika  banyak dari si pemilik mobil, rumah berlantai keramik, dan tinggi yang mengantri mengambil bantuan KIP kuliah. Sudah kaya kok masih mengantri bantuan pemerintah. Alhasil banyak siswa tidak percaya dengan prosedur seleksi dari pemerintah yang katanya adil itu.

 Bantuan dari pemerintah yang seharusnya untuk anak benar-benar cerdas dan memang membutuhkan bantuan Pemerintah Indonesia, kini disalahgunakan oleh oknum tertentu. Bantuan yang seharusnya untuk mereka kini menjadi milik si anak orang kaya. Kenyataan di lapangan mengatakan bahwa yang murni hasil seleksi secara adil hanya hitungan jari. Hal ini terbukti bahwa bantuan KIP ini tidak tepat sasaran. Bukan hanya itu, bahkan pemerintah kini membuat peraturan KIP dengan jargonnya yakni “Merdeka’’, tetapi kenyataanya semakin sulit. Masalah penerima KIP yang salah sasaran saja belum dibenahi, ini malah membuat aturan yang menyesakkan. Hal ini bisa menjadi masalah besar bagi bangsa dan negara jika banyak anak Indonesia terpaksa menggugurkan keinginannya untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi.   

Sungguh miris melihat kenyataan di negeri tercinta kita ini. Anak cerdas di Indonesia yang lebih butuh dukungan pemerintah malah tidak terlihat oleh pemerintah. Yang terlihat hanya si anak orang kaya yang seperti tidak niat kuliah. Mau heran tetapi ini Indonesia, mau bersuara tetapi ini jalur yang sudah mendarah daging dan berkembang di siini. Bahkan menjadi salah satu kunci hidup tenang di negeri ini. 

Bukan hanya jabatan saja yang bisa dibeli tetapi pendidikan dan kecerdasan juga bisa dibeli dengan uang. Pengguna jalur orang dalam dengan mudahnya membeli pendidikan, sedangkan pengguna jalur langit dan kejujuran malah diruntuhkan kecerdasannya oleh uang yang sifatnya hanya sesaat. Segalanya memang butuh uang, tetapi apakah uang juga membeli keadilan pemerintah? Apa sebenarnya yang dipikirkan para petinggi negara ini? Lantas kita harus percaya pada siapa? Tuhan? Orang dalam? Atau keadilan pemerintah? 

Baca Juga: Hati-Hati! Modus Penipuan Perekrutan Anggota Kelompok KKN 2023

Editor: Nisrina Ardra Hafizha

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles