
Penulis: Annisa Allya Putri
Sibolga dan daerah sekitarnya mengingatkan kita pada masalah terkait kerusakan lingkungan. Setelah terjadinya banjir bandang, sungai-sungai dipenuhi dengan batang kayu yang terbawa aliran air. Anehnya, sejumlah orang membela dan menyatakan bahwa kayu-kayu tersebut hanyalah kayu tua yang terseret oleh derasnya air. Namun, jika kita melihatnya secara langsung, bentuk kayu tersebut jelas berbeda.
Kayunya teratur, memiliki panjang yang sama, dan permukaan potongannya sangat rata seolah-olah dipotong menggunakan mesin atau gergaji, bukan patahan alami dari pohon tua yang tumbang karena usianya. Jadi, apakah masih ada yang bisa dianggap kebetulan dalam hal ini?
Baca Juga: Bantuan Diulurkan Tanpa Hati, Kemanusiaan Berserak Tanpa Arti
Paparan tentang pemotongan kayu yang seimbang menunjukkan bahwa kegiatan penebangan liar tampaknya tidak lagi rahasia. Mengapa tidak ada tindakan tegas yang diambil? Sudah diketahui oleh banyak orang bahwa sejumlah wilayah hutan di Sumatra Utara, khususnya Sibolga, terus mengalami penurunan. Penebangan terus berlangsung tanpa pengawasan, dan ketika banjir melanda, masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan. Rumah-rumah terendam, akses jalan hancur, dan mata pencaharian hilang. Sementara itu, para pelaku yang mendapatkan keuntungan dari kayu-kayu tersebut tetap aman di balik nama-nama perusahaan atau perlindungan dari pihak tertentu.
Situasi ini menunjukkan sebuah kenyataan saat hutan ditebang tanpa pertimbangan, peran hutan sebagai penyimpan air dan pelindung dari tanah longsor atau banjir akan hilang. Tanpa adanya pohon, tanah tidak sanggup menahan debit air yang begitu besar. Ketika hujan deras, tanah yang tidak sanggup menampung debit air akan mengalirkannya dengan cepat tanpa rintangan menuju sungai. Debit air yang terlalu besar akan membuat sungai meluap dan menerjang semua yang dilaluinya sembari membawa tanah, sampah, serta potongan kayu. Akibatnya sangat menyedihkan rumah-rumah terendam, jalan-jalan terputus, ada korban jiwa dan kerugian yang besar.
Sayangnya, kisah yang dibangun berusaha untuk menyederhanakan masalah yang ada dengan menyalahkan cuaca ekstrem, kondisi tanah yang buruk, hingga mengandalkan takdir sebagai tameng. Sebenarnya, penyebab utama sudah terlihat jelas, namun diabaikan secara sengaja. Hutan yang seharusnya menjadi pelindung dari banjir telah habis ditebang. Kapasitas resapan air semakin berkurang, sehingga air bisa mengalir tanpa hambatan menuju permukiman penduduk.
Yang menyedihkan adalah bagaimana komunitas dipaksa untuk menerima penjelasan yang tampak tidak logis. Banyak orang seolah dianggap tak mampu memahami fakta yang ada. Namun, saat ini masyarakat tidak dapat lagi dibohongi. Foto dan video dari warga dengan jelas menunjukkan bahwa kayu-kayu yang terbawa arus memiliki potongan yang rapi dan ukuran hampir seragam. Ini adalah bukti nyata, bukan sekadar dugaan.
Kalau penebangan dibiarkan tanpa pengawasan, tunggu saja saat ketika bencana yang lebih besar menghampiri. Pihak pemerintah daerah (pemda) dan aparat harus segera melakukan penyelidikan terhadap asal kayu itu, bukan hanya fokus untuk menenangkan publik dengan pernyataan klasik. Keberanian untuk menyelidiki para pelaku penebangan ilegal merupakan langkah krusial untuk menghentikan kerusakan lingkungan yang semakin parah.
Banjir bukan sekadar masalah alami. Ini merupakan peringatan serius dari tanah yang telah lama menderita akibat keserakahan manusia. Jika kita terus mengabaikannya, kita akan menanggung semua dampaknya. Masyarakat sudah cukup letih menjadi korban. Yang dibutuhkan bukan pembelaan, tetapi tindakan konkret dan keterbukaan. Saatnya kita berhenti berpura-pura tidak mengerti. Hentikan penebangan ilegal, jaga hutan, dan lindungi warga sebelum semuanya terlambat.
Baca Juga: Sistem Pendidikan Tertinggal, Kualitas SDM Terjungkal
Editor: Muhammad Daffa

