Ketika Bencana Menjadi Rutinitas: Bencana Alam atau Bencana Tata Kelola?

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://www.ipb.ac.id/)

Penulis: Zaitun Azzahra

Saat hujan deras turun, sebagian masyarakat merasa cemas. Bukan karena setiap hujan menandakan akan munculnya bencana, tetapi karena pengalaman mengajarkan mereka bahwa hujan dapat menghadirkan banjir, longsor, jalan terputus, aktivitas ekonomi berhenti, atau bahkan kehilangan anggota keluarga.

Masyarakat pada akhirnya memiliki semacam kalender tertulis “musim hujan berarti siap menghadapi banjir, hujan berhari-hari berarti waspada longsor, sungai yang airnya mulai meninggi berarti barang-barang harus segera dipindahkan”.

Baca Juga: Erupsi Gunung Sinabung Harus Menjadi Perhatian Masyarakat untuk Tetap Siaga

Kondisi tersebut memunculkan sebuah pertanyaan yang lebih tajam daripada sekadar “mengapa bencana terjadi?”

Apakah kita sedang menghadapi bencana alam, atau sedang menghadapi kegagalan manusia dalam mengelola risiko alam?

Hujan memang turun dari langit. Tetapi banjir tidak hanya ditentukan oleh hujan. Banjir juga dipengaruhi oleh kemampuan tanah menyerap air, kondisi sungai, tata ruang, sampah, pembangunan, serta aktivitas manusia.

Demikian pula longsor. Hujan dapat menjadi pemicu, tetapi tingkat kerusakan sangat dipengaruhi oleh kondisi lereng, vegetasi, tata guna lahan, pembangunan di daerah rawan, serta kualitas mitigasi. Dengan kata lain, alam memberikan ancaman, sementara manusia sering kali ikut menentukan seberapa besar ancaman tersebut berubah menjadi bencana.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 202 kejadian bencana pada Oktober 2025, dengan 98,51 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi. Pada Desember 2025, persentasenya bahkan mencapai 99,59 persen dari 245 kejadian bencana yang tercatat.

Angka ini harusnya membuat isu lingkungan dan tata ruang yang dibuat oleh manusia menjadi bagian utama dalam pembicaraan mengenai bencana yang terjadi. Sebab, jika sebagian besar bencana dikaitkan dengan kondisi cuaca, maka pembangunan tidak boleh mengabaikan bagaimana dan ke mana air itu akan bergerak sehingga meminimalisir dampak dari bencana itu sendiri. Kita terus mempersempit ruang sungai, menutup daerah resapan, mengurangi vegetasi, lalu terkejut ketika air mencari jalannya sendiri. Air itu selalu berjalan sesuai dengan jalurnya, ketika jalurnya hilang dia akan membuka jalur yang lain.

Di Sumatra Utara, persoalan tersebut bukan teori. Pemerintah daerah sendiri menyatakan bahwa Sumatra Utara memiliki risiko bencana yang kompleks, mulai dari erupsi gunung api hingga banjir dan berbagai ancaman lainnya. Kajian Risiko Bencana Nasional Sumatra Utara 2022–2026 juga memetakan berbagai potensi bahaya, termasuk banjir.

Artinya, risiko tersebut sebenarnya sudah diketahui. Jika risiko itu sudah diketahui, seharusnya setiap pembangunan harus dilihat apakah kawasannya aman, apakah jalur evakuasi aman, apakah pembangunan berada di wilayah yang rawan longsor dan bagaimana dengan kondisi aliran sungai. Sehingga kita bisa mencegah bencana-bencana yang akan terjadi. Pertanyaan yang memang bisa memberikan dampak besar kepada masyarakat itu sendiri. Kelalaian kecil dalam menjaga lingkungan dapat berkembang menjadi kerugian yang jauh lebih besar ketika bertemu dengan hujan ekstrem.

Literasi kebencanaan harus terus digaungkan, diajarkan kepada anak-anak di sekolah dan kepada masyarakat. Sebab, untuk mencegah bencana dan menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi seluruh manusia yang berada di lingkungan tersebut harus benar-benar menjaga dan mempertahankannya. Kita bisa melakukan simulasi evakuasi. Organisasi masyarakat dapat membantu edukasi. Media massa dan media mahasiswa dapat memperbanyak informasi yang edukatif, bukan hanya memberitakan jumlah korban setelah kejadian. Maka, jangan tunggu ada korban baru melakukan aksi, tetapi lakukan edukasi untuk mencegah semua hal yang tidak diinginkan.

Baca Juga: Penanaman Kabel Kota Medan sebagai Bentuk Wajah Baru Kota Medan

Editor: Ummy Syafitri 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles