Penanaman Kabel Kota Medan sebagai Bentuk Wajah Baru Kota Medan

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://www.istockphoto.com/)

Penulis: Muhammad Satria

Kabel yang semrawut di pinggir jalan sudah lama menjadi bagian dari pemandangan Kota Medan. Kalau sedang berhenti di lampu merah, kita bisa melihat tiang-tiang dengan kabel yang saling bertumpuk di atasnya. Ada kabel listrik, internet, telepon, dan berbagai jaringan lainnya. Lama-kelamaan kondisi seperti ini tentu membuat wajah kota terlihat kurang enak dipandang. Oleh karena itu, langkah Pemerintah Kota Medan untuk memindahkan kabel ke bawah tanah menjadi sesuatu yang menarik. Setidaknya, ada usaha untuk mengubah wajah kota yang selama ini terbiasa dengan kabel yang bergelantungan.

Memindahkan kabel ke bawah tanah sebenarnya bukan hal yang baru. Di Jepang, khususnya Tokyo, penataan kabel bawah tanah sudah dilakukan sejak lama. Kabel yang sebelumnya berada di atas tiang, dipindahkan agar jalan lebih tertata karena tiang dan kabel di jalan bisa menimbulkan masalah ketika terjadi bencana. Jadi, ketika Medan mulai melakukan hal yang sama, sebenarnya kita sedang melihat perubahan yang sudah lebih dulu dilakukan negara lain.

Baca Juga: Makanan Bergizi Gratis, Risiko Tak Gratis

Dikutip dari laman resmi Metro Daily, pengerjaan kabel bawah tanah saat ini berlangsung di sejumlah ruas jalan, di antaranya Jalan Brigjend Katamso–Zein Hamid, Jalan Jamin Ginting, Jalan Pattimura–S Parman, Jalan HM. Yamin, Jalan Mongonsidi–Terusan Juanda, Jalan Dr. Mansyur lanjutan, dan Jalan Merak Jingga. Sementara itu, beberapa ruas seperti Jalan GM Panggabean dan sekitar Stadion Teladan, Jalan Dr. Mansyur tahap pertama, Jalan Zainul Arifin, serta Jalan Ir. H. Juanda sudah selesai dikerjakan. Pengerjaan ini memang membuat masyarakat harus berhadapan dengan jalan yang digali dan kondisi lalu lintas yang sedikit berbeda dari biasanya.

Masyarakat mungkin bisa menerima jalan yang digali kalau memang hasil akhirnya jelas. Tetapi, kalau pengerjaannya lama, jalan dibiarkan rusak, atau setelah selesai masih harus dibongkar lagi karena ada jaringan lain, tentu masyarakat akan bertanya-tanya. Jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan macet, sementara manfaatnya baru terasa entah kapan.

Pembangunan pasti membutuhkan proses. Tetapi pemerintah juga harus memikirkan masyarakat yang setiap hari melewati jalan tersebut. Pengendara ingin sampai ke tempat tujuan tanpa harus melewati jalan yang terlalu sempit karena proyek. Pejalan kaki juga tetap membutuhkan trotoar yang aman. Jadi, pengerjaan jangan hanya mengejar target selesai, tetapi kondisi selama pengerjaan juga harus diperhatikan.

Hal yang paling penting justru setelah kabel itu berada di bawah tanah. Pemerintah harus punya aturan yang jelas mengenai jaringan yang akan dipasang setelahnya. Jangan sampai beberapa tahun lagi ada perusahaan yang ingin memasang kabel baru, kemudian jalan yang sudah rapi kembali digali. Kalau terus seperti itu, masyarakat akan melihat kabel bawah tanah hanya sebagai proyek yang membuat jalan dibongkar berkali-kali.

Jepang dapat menjadi contoh dalam hal tersebut. Penataan itu juga berkaitan dengan keselamatan dan kenyamanan masyarakat. Ketika terjadi bencana, risiko kabel atau tiang roboh juga bisa dikurangi. Artinya, kabel bawah tanah memang memiliki manfaat yang sangat besar. Medan sebenarnya memiliki kesempatan untuk mengambil pelajaran dari sana. Kalau hari ini kabel ditanam, besok harus ada cara untuk memperbaikinya tanpa membuat semuanya berantakan lagi. Pemerintah juga perlu terbuka kepada masyarakat mengenai ruas jalan yang dikerjakan dan berapa lama pekerjaan berlangsung. Informasi seperti ini sederhana, tetapi penting bagi orang yang setiap hari menggunakan jalan tersebut.

Masyarakat juga sebenarnya tidak perlu langsung menganggap proyek ini sebagai sesuatu yang buruk hanya karena sekarang banyak jalan yang digali. Rasa terganggu selama pembangunan adalah hal yang wajar. Yang harus dilihat adalah hasil akhirnya. Kalau setelah selesai, jalan menjadi lebih tertata dan kabel tidak lagi memenuhi pandangan, rasa tidak nyaman selama proses pengerjaan mungkin dapat terbayarkan.

Namun, pemerintah harus memaksimalkan proyek ini dengan pengerjaan yang tepat waktu, jalan dikembalikan dengan baik, dan manfaatnya benar-benar terlihat. Dengan begitu, masyarakat akan lebih mudah menerima. Sebaliknya, kalau pengerjaan berlarut-larut dan meninggalkan masalah baru, wajar kalau kritik muncul.

Kabel bawah tanah dapat menjadi salah satu langkah Medan untuk meninggalkan wajah kota yang selama ini penuh dengan kabel semrawut. Namun, keberhasilan program ini nantinya bukan dilihat dari seberapa banyak kabel yang berhasil dimasukkan ke tanah. Keberhasilannya justru terlihat dari apakah masyarakat merasa jalan menjadi lebih nyaman, kota menjadi lebih rapi, dan pemerintah mampu menjaga agar masalah yang sama tidak muncul kembali.

Baca Juga: Asapnya Sampai ke Mana-Mana, Tanggung Jawabnya Sampai Mana?

Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles