
Penulis: Zaitun Azzahra
Saat tugas menumpuk, laporan belum selesai, atau tenggat waktu tinggal beberapa jam lagi, muncul kalimat sederhana, “Sebentar lagi selesai, nanti salatnya.” Awalnya hanya sekali. Namun, jika terus dibiasakan, ibadah itu perlahan dijadikan sebagai sesuatu yang bisa ditunda ketika pekerjaan belum selesai.
Di tengah kehidupan yang makin cepat, manusia dituntut untuk terus-menerus produktif. Mahasiswa mengejar tugas, organisasi mengejar program kerja, pekerja mengejar target, sementara dunia digital saat ini membuat kita seolah harus terus aktif walaupun sudah di malam hari.
Baca Juga: Ketika Rabiulawal Mengingatkan Kita pada Akhlak yang Hilang
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, 77,63 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas tercatat pernah menggunakan internet dalam tiga bulan terakhir pada 2025. Internet memang memberikan kemudahan dalam belajar dan bekerja, tetapi pada saat yang sama membuat batas antara waktu produktif dan waktu istirahat makin kabur.
Islam memperbolehkan untuk mengejar produktivitas. Namun, persoalannya adalah ketika hal itu membuat kita lupa kepada siapa sebenarnya waktu itu diberikan.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-‘Asr bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Surah yang sangat singkat ini mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan manusia bukan sekadar seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan, tetapi bagaimana waktu digunakan dalam kehidupan.
Kita sering merasa bersalah ketika telat mengumpulkan tugas, tetapi tidak merasa bersalah ketika menunda salat. Kita panik ketika tenggat tugas tinggal satu jam, tetapi tenang ketika waktu salat hampir habis. Padahal, deadline akademik dibuat oleh manusia, sedangkan waktu salat merupakan ketetapan Allah.
Bukan berarti tugas itu tidak penting. Menyelesaikan tugas tepat waktu adalah bagian dari tanggung jawab. Bahkan, menunda pekerjaan hingga mengganggu kewajiban orang lain itu tidak boleh. Islam mengajarkan keseimbangan bekerja dan sungguh-sungguh, namun tidak ada alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah. Faktanya, kita bukan kekurangan waktu, tetapi inti masalahnya adalah bagaimana cara kita memperlakukan waktu.
Kita bisa menghabiskan waktu beberapa jam untuk hal yang tidak penting di media sosial sehingga tenggat-tenggat pekerjaan dikerjakan pada waktu yang sangat singkat, hingga akhirnya berpengaruh pada waktu beribadah, bahkan sampai lupa untuk mengerjakan kewajibannya kepada Allah Swt.
Oleh karena itu, mungkin pertanyaannya perlu diubah. Bukan “Bagaimana agar saya bisa menyelesaikan semuanya?” melainkan “Apa yang harus saya prioritaskan agar semua yang saya lakukan tetap bernilai?”
Perlu diingat, produktif itu bukan berarti sibuk setiap saat. Produktif berarti mampu menggunakan waktu untuk hal-hal yang bernilai. Jika sebuah pekerjaan selesai tetapi membuat kita meninggalkan kewajiban, mungkin kita perlu mengevaluasi kembali cara kita bekerja.
Ada keberhasilan yang terlihat oleh orang lain, ada pula keberhasilan yang tidak langsung terlihat, yaitu hari yang tenang, hidup yang tertata dan pekerjaan dilakukan tanpa mengorbankan kewajiban kepada Sang Pencipta.
Sebab pada akhirnya, bukan hanya tugas yang memiliki tenggat. Hidup pun demikian. Ketika tenggat kehidupan tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk meminta tambahan waktu. Maka, mari belajar menjadi manusia yang produktif tanpa kehilangan arah. Sebab pekerjaan yang selesai tanpa meninggalkan kewajiban kepada Allah, itulah yang menghadirkan keberkahan.
Baca Juga: Meneladani Akhlak Nabi di Dunia Digital: Menjaga Kesantunan di Tengah Bisingnya Media Sosial
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

