Pembantaian di Palestina: Sejarah dan Isu Kemerdekaannya

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet freepik.com)

Penulis: Muhammad Maulana Akbar

“‘Dan janganlah Engkau menyerahkan mereka kepada orang-orang lain sehingga orang lain akan memanfaatkan mereka.’ Kemudian, Rasulullah saw. meletakkan tangannya di atas kepalaku, atau dia mungkin mengatakan ‘hamah’ (leher/kepala), lalu dia berkata: ‘Wahai Ibn Hawala, ketika kamu melihat khilafah telah turun ke Baitul Maqdis (Yerusalem), maka saat itu akan mendekat gempa bumi, bencana besar, dan masalah besar. Pada hari itu, saat kiamat akan lebih dekat bagi manusia daripada jarak ini, antara tanganku dan kepalamu.” (H.R. Abu Dawud).

Hadis ini dianggap lemah menurut catatan kaki Syuaib Al-Arnaout dan menimbulkan keraguan dari perawi-perawi dalam rantai riwayat hadis ini. Ada banyak lagi sebenarnya dalil agama yang menyebutkan tentang kemenangan Palestina dan akhir zaman yang semakin dekat, beberapa di antaranya juga menyebutkan tanda-tanda lain seperti dataran arab yang awalnya gersang menjadi subur menghijau.

Lalu, bagaimana awal mula konflik Israel dan Palestina ini terjadi? Berikut penjelasan singkatnya:

Baca Juga: Tanda-tanda Bahwa Kamu Mungkin Sedang Menghancurkan Diri Sendiri

Sejarah konflik

Pada 2 November 1917, lebih dari seratus tahun yang lalu, Arthur Balfour selaku Menteri Luar Negeri Inggris saat itu menulis surat kepada seorang Yahudi Inggris bernama Lionel Walter Rothschild. Meskipun surat tersebut singkat tetapi isinya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Palestina dan masih terasa hingga hari ini. Perjanjian itu mewajibkan pemerintah Inggris untuk mendirikan rumah nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina dan membantu pencapaian tujuan ini. Surat itu disebut sebagai Deklarasi Balfour. Intinya, kekuatan Eropa menjanjikan negara Zionis di wilayah yang 90 persen penduduknya adalah Arab Palestina.

Pada akhir 1937, fase kedua pemberontakan dimulai. Ini dipimpin oleh perlawanan petani Palestina terhadap Inggris dan kolonialisme. Inggris mengirimkan 30.000 tentara ke Palestina pada paruh kedua tahun 1939. Desa-desa dibom melalui udara, jam malam dilarang, rumah dihancurkan, dan banyak penahanan administratif hingga pembunuhan massal. Selain itu, Inggris bekerja sama dengan kelompok pemukim Yahudi untuk membentuk kelompok bersenjata dan pasukan kontra pemberontakan. Kelompok ini dipimpin oleh para pejuang Yahudi dan dikenal sebagai Pasukan Malam Khusus.

Situasi saat ini yang terjadi

Empat negara yakni Uni Eropa, Rusia, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Amerika Serikat mengusulkan peta menuju perdamaian yang saat ini dikenal sebagai proposal perdamaian. Bangsa Yahudi juga menerima peta itu, tetapi dengan empat belas “reservasi”. Perdana Menteri Ariel Sharon mengusulkan rencana pemisahan diri yang kontroversial untuk bangsa Yahudi saat ini. Mereka juga akan mengawasi dan mengawal kantong eksternal di darat, mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza, dan terus melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza.

Pemerintah Yahudi mengusulkan pemisahan diri sepihak untuk memungkinkan Palestina membangun tanah air mereka sendiri dengan campur tangan Israel yang minimal. Tujuannya adalah untuk menarik Israel dari situasi yang dianggap terlalu mahal dan secara strategis tidak layak untuk dipertahankan dalam jangka panjang.

Upaya Perdamaian

Pada 1967, PBB mengeluarkan resolusi 242 setelah Perang Enam Hari berakhir. Dalam resolusi ini, mereka meminta Israel untuk menarik pasukannya dari wilayah Palestina yang diduduki. Pada Perjanjian Camp David tahun 1978 ditetapkan bahwa Israel akan secara bertahap menarik pasukannya dari Gurun Sinai, Mesir, dan mendirikan pemerintahan transisi Palestina di Tepi Barat dan Gaza.

Kemudian, pada 2019 dalam Proposal Damai Trump, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat proposal baru untuk perdamaian Israel-Palestina yang disebutnya sebagai Kesepakatan Abad Ini. Fokus dari proposal damai tersebut adalah meningkatkan ekonomi negara Arab, termasuk Palestina. Namun, solusi untuk pembentukan dua negara yang selama ini menjadi standar proses perdamaian Israel-Palestina di komunitas internasional tidak disebutkan dalam proposal tersebut.

Sebenarnya masih banyak lagi upaya perdamaian dan deklarasi kemerdekaan untuk Palestina, tetapi selalu saja menemui jalan buntu tanpa titik terang hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.

Lalu, pertanyaan yang kita sebutkan di awal tadi kembali muncul. Apakah dengan kemenangan Palestina nanti menjadi pertanda bahwa akhir zaman semakin dekat? Jika melihat fakta di lapangan, di antara tanda-tanda akhir zaman yang sudah terjadi bukanlah hanya peperangan ini. Begitu banyak tanda yang berkeliling tetapi kita sendiri masih terluput darinya, hanya menganggap angin lalu dan tidak menghiraukannya. Akan tetapi penulis berpesan, daripada terus mempertanyakan tentang kedatangan akhir zaman, alangkah baiknya mempersiapkan bekal untuk kedatangannya karena itu merupakan kejadian yang nyata.

Baca Juga: Menjaga Kearifan Lokal di Tengah Situasi Global

Editor: Rika Wulandari

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles