
Penulis : Jordan Yogaswara
Baru-baru ini ijazah Jokowi dipertanyakan lagi usai beliau pensiun dari jabatannya sebagai presiden Indonesia ketujuh. Aksi ini di awali dengan munculnya aktivis untuk membuktikan keaslian ijazah SMA Jokowi. Perlu diketahui kasus ini sudah mencuat pada tahun 2019 karena ada salah satu pengguna Facebook bernama Umar Kholid Harahap menuding bahwa ijazah yang digunakan Jokowi untuk daftar sebagai calon presiden itu palsu. Hal itu dikarenakan, tahun kelulusan di ijazah tersebut tertulis 1980, sedangkan SMA yang Jokowi tempati baru berdiri pada tahun 1986. Hal ini yang membuat Umar Kholid Harahap berpikir bahwa ijazah Jokowi itu palsu.
Tidak lama sejak pernyataan itu diunggah, pihak kepolisian menangkap Umar Kholid Harahap karena kasus penyebaran hoaks. Namun, setelah peradilan, ia tidak dijatuhkan hukum jeruji besi, tetapi harus wajib lapor.
Baca Juga: Pink Moon dan Refleksi di Bawah Langit April
Baru-baru ini muncul kembali aktivis yang ingin membuktikan keaslian ijazah Jokowi. Mereka melakukan unjuk rasa di Universitas Gadjah Mada (UGM) tepatnya di Fakultas Kehutanan. Mereka mendesak pihak UGM untuk klarifikasi terkait keaslian ijazah Jokowi. Hingga akhirnya, pihak UGM mengizinkan beberapa orang masuk ke dalam untuk audiensi tentang keaslian ijazah Jokowi, sebut saja Roy Suryo, Dr. Tifa, Rismon Syianifal, dan Syukri Fadholi.
Namun, cukup di sayangkan, ijazah Jokowi sudah tidak ada di UGM, karena “katanya” sudah dibawa oleh Jokowi. Tak sampai situ, pada saat Roy Suryo beraudiens dengan pihak UGM, ia hanya menemukan skripsi Jokowi saja. Akan tetapi, menurut Roy, ada yang janggal karena di dalam skripsi tersebut tidak mencantumkan tahun dan tidak ada sejumlah tanda tangan dosen pembimbing yang biasanya tertera di skripsi kebanyakan. Hal tersebut pun menguatkan dugaan terkait kepalsuan ijazah Jokowi. Tidak menutup kemungkinan pula, masa akan terus mencari informasi tentang keaslian ijazah Jokowi.
Jika memang dugaan ijazah palsu itu benar, tidak hanya anggota eksekutif ataupun legislatif saja yang tertipu, tetapi masyarakat Indonesia juga ikut tertipu akan latar belakang pendidikan Jokowi. Sangat disayangkan rasanya, jikalau dugaan tersebut benar, selain pembohongan publik, sistem pemilihan bakal calon presiden juga patut ditanyakan kinerjanya dalam menyeleksi berkas para kandidat.
Lalu, mengapa isu seperti ini masih terjadi hingga saat ini? Apakah ijazah begitu penting bagi masyarakat dibanding kinerja beliau pada saat ia menjabat? Perlu diketahui bahwa pikiran masyarakat tentang pemimpin memang se-sensitif itu. Banyak yang menuntut pemimpin itu harus baik dalam segala aspek dan harus sesuai ekspektasi masyarakat.
Sekali lagi, masyarakat hanya ingin mengetahui kebenarannya. Apakah yang mereka duga selama ini benar ijazah tersebut palsu atau hanya pernyataan yang diada-adakan karena ingin menjatuhkan kubu Jokowi?
Baca Juga: Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Pantaskah?

