Revitalisasi Lapangan Merdeka, Mengulik Wajah Baru Jantung Kota Medan

- Advertisement - Pfrasa_F
(Kamerawan: Fathurrahman)

Penulis: Fathurrahman

Kalau kamu baru jalan-jalan ke Lapangan Merdeka Medan sekarang, pasti kaget dengan tampilan barunya yang saat ini masih belum rampung. Apa yang sesungguhnya terjadi? Lapangan Merdeka seluas hampir 5 hektar dulunya sempat dipenuhi kios, lapangan untuk beraktifitas, dan parkiran yang nyaris mengubur fungsinya sebagai ruang publik dan cagar budaya.

Melansir dari Detik.com, berdasarkan data yang didapatkan dari Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Penataan Ruang (PKPPR) Kota Medan, basemen dua lantainya menampung 425 lot parkir roda empat dan 381 lot parkir roda dua. Basemen lantai 1 memiliki luas 20.290 meter persegi, sedangkan luas basemen lantai 2 (lantai dasar) 21.369 meter persegi.

Baca Juga: Tren S Line: Garis Merah yang Viral, Nilai yang Amoral

Dalam revitalisasinya, bangunan-bangunan itu dibongkar untuk dikembalikan jadi ruang terbuka hijau, panggung rakyat, jogging track, skatepark, taman anak, serta tugu proklamasi. Pohon trembesi tua yang sudah ada sejak 1880 dipertahankan, menjadi ciri khas lapangan ini.

Revitalisasi ini tidak hanya soal estetika. Terdapat konsep rain garden dan sponge city untuk mengatasi banjir serta mengintegrasikan lapangan dengan stasiun kereta dan jalur TOD (Transit Oriented Development). Hal ini sesuai dengan upaya low carbon city. Namun, apakah itu akan berjalan mulus?

Melansir dari Kompas.id, Meskipun banyak yang mendukung, tak sedikit juga yang mengkritik. Beberapa aktivis menyoroti potensi kerusakan heritage dan fungsi ruang publik yang dirasa berkurang karena basemen. Bahkan, pada April 2023, Koalisi Masyarakat Sipil sempat menggugat pemerintah terkait urgensi proyek dan pelanggaran aturan cagar budaya. Jadi, prosesnya pun tidak selalu mulus.

Setelah dianggap rampung dan layak digunakan publik, lapangan merdeka dibuka kembali setelah diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution pada Februari 2025. Masyarakat Medan beramai-ramai datang ke Lapangan Merdeka untuk olahraga, nongkrong bersama keluarga, atau sekadar jalan-jalan. Sementara basemennya masih tahap penyelesaian, permukaan lapangan sudah full dimanfaatkan masyarakat, tetapi masih banyak beberapa fasilitas yang belum rampung seperti toilet, area parkir, dan lainnya. sehingga menjadi tanda tanya besar bagi banyak masyarakat.

Dari sudut pandang masyarakat, revitalisasi Lapangan Merdeka adalah perubahan yang menarik. Ruang publik berbasis sejarah dipertahankan, namun juga ditambahkan fasilitas modern dan ramah lingkungan. Konsep dua lantai bawah dan permukaan hijau sangat bijak agar kegiatan publik tak terganggu. Tetapi, pertanyaan pentingnya, apakah revitalisasi ini benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat? Ataukah hanya sebatas proyek estetika yang tak menyentuh akar persoalan kota?

Kalau dilakukan dengan transparan dan melibatkan seluruh masyarakat Medan, proyek ini punya potensi memperkaya identitas sejarah, sekaligus memenuhi kebutuhan ruang interaksi warga. Harapannya juru parkir liar juga diawasi ketat agar tidak menganggu kenyamanan masyarakat.

Lapangan Merdeka, sebagai saksi sejarah perjuangan dan dinamika sosial warga Medan, telah mengalami berbagai perubahan bentuk. Kini, upaya menyulapnya menjadi ruang publik multifungsi menunjukkan semangat yang ingin berbenah, lebih manusiawi, dan inklusif. Jika dilihat dari semangatnya, proyek ini jelas menjanjikan. Konsep green open space yang ramah lingkungan adalah langkah maju. Di tengah gempuran beton dan polusi kota, keberadaan ruang hijau menjadi penting bagi kesehatan fisik dan mental warga.

Namun demikian, di sisi lain, bayang-bayang komersialisasi ruang publik masih menghantui. Penulis khawatir lapangan ini perlahan kembali dipenuhi gerai-gerai modern yang menyingkirkan pedagang kecil. Khawatirnya, revitalisasi ini hanya dinikmati kalangan menengah ke-atas, sementara rakyat kecil kembali tersingkir. Ketika revitalisasi tidak diimbangi dengan perlindungan terhadap pelaku ekonomi mikro seperti Pedagang Kaki Lima (PKL) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), maka lapangan ini bisa kehilangan denyut nadi kerakyatannya.

Selain itu, transparansi dalam pengelolaan proyek juga patut menjadi sorotan. Anggaran besar dan penggunaan ruang bawah tanah sebagai parkir kerap menuai tanya, siapa yang paling diuntungkan dari proyek ini? Apakah pengelolaan parkir akan berkontribusi untuk pembiayaan perawatan ruang publik? Ataukah justru membuka peluang bagi praktik-praktik sewa lahan yang tidak berpihak pada publik?

Kini, saat kita berjalan di atas jalur pejalan kaki yang baru, atau menikmati rindangnya pohon trembesi tua yang masih berdiri anggun, kita sedang menyaksikan benturan dua hal, yaitu warisan sejarah dan harapan masa depan. Lapangan Merdeka bukan hanya proyek kota, tetapi simbol dari bagaimana kota bisa tumbuh tanpa melupakan akar. Jika pemerintah Kota Medan bisa menjaga keseimbangan itu, maka ‘napas baru’ ini mampu menjadi udara segar yang menyehatkan kota, bukan hanya ilusi dari tata kota yang elok di permukaan.

Baca Juga: Gaya Hidup Senang Sekarang, Gen Z Terancam Sulit Punya Rumah?

Editor: Muhammad Daffa

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles