Sindrom Tourette Jadi Sorotan, Berbahayakah?

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Pribadi (Kasubdiv Rumah Tangga)

Penulis: Umaira Sabila

Akhir-akhir ini ramai perbincangan mengenai sindrom tourette di berbagai media sosial. Pasalnya, Lewis Capaldi yang merupakan seorang penyanyi dan penulis lagu “Before You Go” asal Skotlandia mengalami sindrom itu saat tampil di Jerman pada Februari 2023 lalu.

Dalam video TikTok yang diunggah seorang netizen, menampilkan Lewis yang sedang bernyanyi tiba-tiba sindromnya kambuh. Ia merasa tidak nyaman dan terus melakukan gerakan berulang-ulang dengan kepala yang dihentak-hentakkan ke belakang. Menyadari hal itu, para penonton konser membantu Lewis untuk menyelesaikan lagunya. Lewis tetap profesional dan berusaha untuk tetap melanjutkan lagunya hingga akhir, meskipun tidak sempurna dari biasanya.

Menanggapi hal tersebut, pada September 2022 lalu, Lewis sudah mengumumkan bahwasannya ia mulai mengidap sindrom tourette, dan menggunakan beberapa macam obat untuk meredakan sindrom yang dialaminya itu. Meski begitu, banyak orang berpendapat bahwa ia mengonsumsi narkoba karena tindakannya seperti penyabu. Penyakit tersebut sangat langka atau bahkan hampir jarang dialami oleh orang-orang.

Baca Juga: Jangan Siksa Panda YaYa, Pulangkan Saja Dia!

Dilansir dari narasi.tv, Lewis menjelaskan bahwa ia mempunyai sindrom tourette dan mengalami kedutan saat tampil. Ia juga menjelaskan bahwa ketika merasa lelah, gugup, dan terlalu bersemangat, maka tourette akan kambuh dengan sendirinya.

Netizen menyampaikan belas kasihan dalam komentar akun TikTok yang menampilkan saat kambuhnya penyakit tersebut. Mereka juga mendoakan agar Lewis dapat sembuh dari penyakit yang dideritanya. Karena, para netizen takut dengan adanya sindrom tersebut Lewis tidak bisa tampil lagi untuk mengisi konser, padahal mereka sangat menanti-nantikan suara dan lagu yang dibawakan oleh Lewis.

Sindrom ini merupakan gangguan yang menganggu sistem saraf, dan membuat penderitanya mengalami tics, yaitu gerakan atau ucapan berulang yang tidak dapat dikontrol. Akan tetapi, pada dasarnya penyakit ini tidak terlalu berbahaya jika hanya terjadi sesekali. Namun, hal itu dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Umumnya, kondisi ini terjadi saat rentang usia 2–15 tahun dan lebih banyak terjadi pada anak laki-laki. Meski begitu, tak menutup kemungkinan anak perempuan juga bisa mengalami sindrom tersebut, seperti halnya Billie Ellish.

Sindrom tourette disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya yakni genetik dan lingkungan. Namun, siapa sangka ternyata tidak ada obat untuk sindrom tourette ini dan tidak dapat disembuhkan, serta dapat mengakibatkan depresi. Maka dari itu, perlunya terapi, pengobatan, dan perawatan neurologis untuk menangani sindrom tersebut. Begitu juga peran dan kepedulian orang tua sangat dibutuhkan bagi anak. Untuk mengetahui sindrom tersebut ada pada anak atau tidak, dapat diketahui dengan melakukan pengecekan rutin atau pemeriksaan kesehatan terhadap anak.

Untuk ibu yang sedang mengandung, ada baiknya untuk tidak terlalu stres dalam memikirkan apa pun, karena hal tersebut tentunya akan berdampak pada anak yang akan lahir. Hal tersebutlah yang memicu terjadinya sindrom tourette.

Baca Juga: Hedonisme, Antara Kebutuhan dan Gaya Hidup

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles