
Penulis : Zaitun Azzahra
Pernahkah kamu ketika ditanya “Apakah kamu ada masalah?” tapi kamu malah menjawab, “aku baik-baik saja,” lalu, saat kamu curhat dengan temanmu, mereka malah bilang “coba berpikir positif saja!” atau “santai saja, semua pasti ada hikmahnya.” Kalimat itu terkadang justru membuat kita terjebak, bukan merasa diri kita lebih baik lagi, tapi malah membuat kita terus kepikiran dan akhirnya berujung stress. Bisa saja komentar tersebut membuat kamu tidak di mengerti atau bahkan kamu langsung merasa bersalah karena dari awal tidak berpikir positif.
Di era media sosial saat ini, di mana segala hal terlihat sempurna, tekanan untuk kita harus selalu berpikir positif semakin besar. Banyak kutipan motivasi dan anjuran untuk selalu bahagia. Namun dibalik pesan-pesan positif tersebut bisa saja merugikan kesehatan mental seseorang.
Baca Juga: Huru-Hara Pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis
Toxic positivity adalah kondisi dimana seseorang harus mempertahankan sikap positifnya di segala situasi, tidak perduli seberat apapun yang di hadapinya. Hal ini memaksa seseorang untuk selalu menyingkirkan emosi negatif dan fokus kepada segala sesuatu yang bersifat positif.
Pada dasarnya ini adalah pola pikir yang menganggap bahwa segala hal harus dihadapi dengan optimisme dan senyum yang lebar walaupun itu hal yang menyakitkan. Jadi kalau kamu merasa sedih, stres, dan marah itu tidak boleh.
Walaupun niatnya baik, yaitu mencoba memberikan dukungan dan meringankan beban, justru nasihat yang seperti itu bisa memperburuk keadaan. Kalau kita terlalu fokus pada sisi positif, maka tidak ada ruang untuk merasakan dan memproses emosi negatif.
Hal ini justru berbahaya, karena toxic positivity membuat perasaan negatif itu tidak tersalurkan dengan baik. Dampak yang terjadi adalah peningkatan stres bahkan burnout. Tentunya mengarah kepada ketidakpuasan dan perasaan terjebak di hati dan pikirannya. Ketika seseorang diberitahu untuk “berpikir positif saja,” bisa jadi pesan yang tersampaikan adalah emosinya tidak valid dan tidak terlalu penting. Padahal validasi emosi adalah komponen dari kesehatan mental.
Toxic positivity juga membuat penekanan emosi yang berkelanjutan. Kalau emosi tertahan maka dampaknya kepada fisik seseorang. Bisa jadi, ketika emosi ditekan seseorang bisa mengalami gangguan tidur, penurunan sistem kekebalan tumbuh, sampai kepada peningkatan tekanan darah. Menekan emosi juga beresiko kepada depresi dan gangguan kecemasan masa depan.
Toxic positivity dapat menciptakan rasa bersalah pada individu yang mengalami emosi negatif. Mereka akan berpikir “kenapa saya tidak bisa bahagia seperti orang lain?” atau merasa ada yang salah pada dirinya karena merasakan emosi negatif itu dan tidak berpikir positif. Maka, muncullah perasaan malu. Perasaan tersebut bisa memperburuk keadaan bahkan mempengaruhi kesehatan mental orang tersebut dan enggan mencari bantuan. Toxic positivity dapat menciptakan isolasi sosial dan kesepian.
Maka dari itu Toxic positivity harus kita hindari. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan kasih sayang kepada diri sendiri. Karena dengan menerapkan hal ini bisa menurunkan tingkat kecemasan dan depresi pada dirinya. Saat kita merasa cemas dan sedih kita bisa berkata pada diri sendiri bahwa saya tidak pernah merasa sendiri untuk melewati ini.
Ketika kamu merasakan emosi negatif, maka akui keberadaannya. Hai ini tentu membantu kita untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan emosi kita. Nah, jika kamu merasa sulit mengelola emosi dan merasa adanya perasaan negatif maka cari bantuan kepada yang profesional.
Oleh karena itu, ingatlah bahwa setiap orang memiliki masa sulitnya tersendiri, waktu dimana emosinya sedang tidak stabil. Mengakui dan mengenal semua aspek dari emosi kita adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Dengan meninggalkan ekspetasi untuk selalu positif justru membuka jalan untuk menyembuhkan dan menjaga kesehatan mental kita diri sendiri.
Baca Juga: Job Hugging: Ketika Diri Dipaksa Nyaman dengan Pekerjaan
Editor: Ranum Aisyah

