2212 MDPL: Perjalanan Menaklukkan Deleng Pintau

- Advertisement - Pfrasa_F

Penulis: Afriana Alawiah. AR

Ini bukan cerita rekaan. Ini kisah nyata yang penulis alami pada 2 Januari 2026 di Gunung Sibayak. Aku berangkat dengan satu modal utama, yaitu nekat. Sejak kecil, aku menyimpan mimpi untuk berkelana, memandang dunia dari ketinggian, dan merasakan arti keberhasilan setelah menaklukkan ketakutan. Hari itu, Kak Zahra mengajakku mendaki. Tanpa rencana panjang, tanpa persiapan berlebih. Tektok saja—naik, menikmati, lalu pulang. Aku mengiyakan dengan riang. Sudah tiga bulan sejak pendakian pertamaku, dan rasa cintaku pada gunung justru semakin tumbuh.

Kendaraan kami diparkir di Pos 1. Dari sanalah langkah benar-benar dimulai. Jalur tanah yang basah dan berlumpur menyambut, bersama sapaan hangat para pendaki lain. Di gunung, keramahan terasa seperti bahasa yang sama-sama dipahami. Kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Sibayak dan berjumpa dengan beberapa pendaki. Percakapan singkat membuat kami berjalan bersama. Perjalanan berlanjut ke Air Terjun Sibayak. Jalurnya licin, berlumut, dan dipenuhi ranting liar. Lalu, Telaga Putri—tenang dan sunyi, dengan trek yang lebih bersahabat. Hingga akhirnya, kami tiba di Deleng Pintau, yang konon merupakan puncak tertinggi Sibayak. Titik yang sering disebut sebagai “remedial”, tempat banyak pendaki memilih untuk pulang karena jalurnya terjal dan menguras tenaga.

Baca Juga: Jejak Tiga Wajah Roehana Koeddoes dari Koto Gadang

Sore itu, alam menunjukkan wajah aslinya. Trek semakin licin, tanah seakan menahan langkah, dan angin mulai bertiup kencang. Namun, tekad untuk menaklukkan Deleng Pintau terasa lebih besar daripada rasa lelah yang mendera. Kami sering berhenti, beristirahat, serta saling menyemangati dengan candaan kecil. Hingga pukul lima sore, kami tiba di puncak. Dari tujuh orang, hanya empat yang berhasil, yaitu aku, Kak Zahra, Zaky, dan Bang Ade. Lega dan haru bercampur menjadi satu. Namun, ternyata itu hanya jeda sebelum ujian yang sebenarnya. Saat turun, jalur yang tadi kami lewati seakan menghilang. Kami berjalan berputar-putar, mencoba berbagai arah. Waktu berlalu tanpa kepastian. Hari semakin gelap, kabut turun perlahan, dan hutan berubah menjadi asing.

Saat itulah kami sadar bahwa kami tersesat. Tenaga terkuras habis. Tanpa tenda, tanpa alas, logistik menipis. Hujan turun, angin menusuk. Kami duduk berdekatan, saling menguatkan. Tidak ada kepanikan berlebihan, tidak ada saling menyalahkan. Doa Nabi Yunus kami lafalkan berulang-ulang. Aku berdoa agar tubuhku tidak menyerah, agar kami tidak mengalami hipotermia, dan agar pagi benar-benar datang. Di tengah doa-doa itu, hal-hal ganjil mulai terasa. Suara langkah kaki terdengar di kejauhan. Cahaya senter menyala di antara pepohonan. Kami mengira itu tim Search and Rescue (SAR). Kami berteriak meminta tolong. Tidak ada jawaban. Bunyi trekking pole yang dipukulkan ke tanah terdengar jelas. Bayang-bayang samar tampak bergerak di kegelapan. Aku merinding. Rasanya seperti berada di film-film yang dulu hanya kutonton—dan kini aku berada di dalamnya. Jarum jam terus bergerak, menunjukkan pukul dua belas malam. Tidak ada bantuan, tidak ada jawaban. Hanya dingin, lapar, dan rasa takut yang diam-diam membesar. Harapan perlahan menipis. Kami berusaha bertahan, saling mengingatkan untuk tetap sadar. Aku hanya ingin malam itu segera berlalu.

Pagi akhirnya datang. Dengan sisa tenaga, kami mencoba lagi. Kakiku kaku, tubuhku nyaris menyerah. Aku berhenti dan berkata pelan, “Kak, Alawiah di sini saja.” Kak Zahra menolak. Zaky meyakinkan kami bahwa kami bisa keluar bersama. Tidak ada satu pun dari mereka yang meninggalkanku. Kami berjalan perlahan, saling menopang. Hingga akhirnya, langit muncul di sela pepohonan—biru, terang, dan nyata. Aku menangis tanpa air mata. Lega yang tidak dapat dijelaskan dengan kata apa pun. Aku yakin, di antara semua doa yang terucap malam itu, ada doa Ibu yang melangit tanpa henti menjaga anak bungsunya.

Kami turun dan bertemu pendaki lain. Wajah kami pucat, tubuh berlumpur. Mereka bertanya dengan raut prihatin. Kami diberi minum, camilan, dan perhatian yang hangat. Di Pos 2, tenda-tenda berdiri menyambut. Aku duduk diam, termenung, mencoba mencerna semua yang terjadi. Rasanya seperti mimpi, tetapi lumpur di sekujur tubuhku, luka di kakiku, dan ingatan malam itu memastikan satu hal, bahwa ini nyata. Sejak hari itu, aku mengerti bahwa mendaki bukan tentang seindah apa puncak yang dicapai, melainkan tentang cerita di setiap langkah dan tentang siapa yang tetap tinggal saat kita hampir menyerah.

Gunung Sibayak, dengan ketinggian sekitar 2.212 meter di atas permukaan laut, sering disebut ramah bagi pendaki pemula. Jalurnya jelas, kawahnya ikonik, dan pemandangannya memikat. Namun, pengalaman ini mengajarkanku bahwa tak ada gunung yang benar-benar mudah. Alam selalu memiliki cara untuk menguji manusia tentang batas, keberanian, dan arti pulang dengan selamat. Sayangnya, penulis tidak memiliki dokumentasi saat bertahan hidup pada malam itu. Kami hanya fokus pada keselamatan. Tidak ada satu pun dari kami yang teringat untuk mendokumentasikannya.

Baca Juga: Suara Generasi Muda: Tarian dan Bahasa Mandailing yang Tak Padam

Editor: Tengku Wafa’ Alifah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles