Reporter: Afriana Alawiah AR
Seperti Gunung Merbabu yang memesona para pendaki di Jawa dengan sabana dan puncak berlapisnya, Deleng Pitu Dayang hadir sebagai jawabannya di Sumatra—sebuah permata tersembunyi di Tanah Karo yang kini viral dan siap merebut hati siapa pun yang berani mendakinya.
Dalam bahasa Karo, deleng berarti gunung atau bukit, pitu berarti tujuh, dan dayaDeleng Pitu Dayang, Pesona “Merbabu”-nya Sumaterang merujuk pada bidadari kahyangan—perempuan cantik yang penuh rahmat. Kawasan perbukitan ini terletak di Dusun Paya Mbelang, Desa Mbal-Mbal Petarum, Kecamatan Lau Baleng, Kabupaten Karo. Jauh dari papan iklan wisata dan minim sinyal telepon, tempat ini justru menemukan jalannya menuju popularitas melalui media sosial dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: 2212 MDPL: Perjalanan Menaklukkan Deleng Pintau
Julukan “Merbabu-nya Sumatra Utara” muncul karena kemiripan lanskap dan pengalaman antara Gunung Merbabu dan Deleng Pitu Dayang. Keduanya menawarkan sabana luas bergelombang seperti permadani hijau, dikelilingi beberapa puncak atau bukit, serta panorama pegunungan yang membentang. Keduanya juga dikenal sebagai lokasi berkemah dengan langit berbintang yang indah. Bedanya, Merbabu telah lama populer dengan jalur dan fasilitas yang memadai, sementara Deleng Pitu Dayang masih tergolong baru—jalurnya lebih “liar” (±3 jam, terjal dan berbatu), serta infrastrukturnya masih terbatas.
Pada 29 Maret 2026, perjalanan kami menuju Deleng Pitu Dayang dari Kota Kutacane memakan waktu sekitar tiga jam perjalanan darat hingga tiba di pos pendakian. Jalan yang dilalui berkelok di antara perkebunan dan perkampungan dengan panorama yang silih berganti. Beberapa titik jalur masih dalam kondisi rusak dan berlumpur saat hujan, menjadi tantangan tersendiri yang justru menambah kesan petualangan.
Dari pos pendakian, perjalanan dilanjutkan dengan trekking sekitar tiga jam menuju area perkemahan dan puncak. Medan terjal langsung menyambut tanpa jeda: tanjakan tajam dengan batu-batu besar yang menguji fisik. Matahari siang terasa membakar, sementara angin sesekali berembus kencang dari berbagai arah. Di pertengahan perjalanan, pemandangan terbuka menghadirkan panorama yang memikat—senja perlahan mengintip, seolah enggan menampakkan diri sepenuhnya.
Perjalanan ini cukup menguras stamina. Meski hanya berada di ketinggian 665 mdpl, pendakian ini tetap membutuhkan persiapan yang matang. Kami bermalam, dan pengalaman itu terasa kian sempurna. Di bawah langit Karo yang bebas polusi, hanya empat tenda berdiri, ditemani sekitar sepuluh pendaki yang bermalam di area tersebut.
Meski infrastrukturnya masih terbatas, Deleng Pitu Dayang mulai menunjukkan geliat pengelolaan berbasis masyarakat. Warga lokal menyediakan jasa pemandu untuk membantu navigasi jalur yang masih alami. Di pos bawah juga tersedia penitipan kendaraan bagi pengunjung. Jalur trekking mulai dikenali, meskipun belum sepenuhnya tertata. Selain itu, komunitas pecinta alam turut berperan dalam memperkenalkan lokasi ini, menjaga kelestarian, serta membangun kesadaran akan potensinya sebagai destinasi pendakian baru di Sumatra Utara.
Di balik keindahan sabananya, tersimpan kisah kepercayaan masyarakat setempat. Penulis sempat berbincang dengan seorang pemandu lokal yang menceritakan bahwa tujuh puncak bukit di kawasan ini dipercaya sebagai tempat para bidadari turun dari langit untuk bermain di embun pagi. Dari sanalah nama “Deleng Pitu Dayang” berasal.
Mungkin terdengar seperti dongeng. Namun, saat berdiri di sabana pada waktu fajar, kisah itu terasa begitu dekat. Ada keheningan, keindahan, dan nuansa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Deleng Pitu Dayang—“Merbabu”-nya Sumatra. Ia tidak hanya memanggil untuk didaki, tetapi untuk dirasakan sepenuh hati.
Baca Juga: Jejak Tiga Wajah Roehana Koeddoes dari Koto Gadang
Editor: Tengku Wafa’ Alifah

