
Penulis: Putri Khairunniswa
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat:12)
Nadhifa Syafa, perempuan yang kerap dipanggil Syafa. Ia adalah murid yang ceria dan pintar. Namun, belakangan ini, ia tampak murung ketika di sekolah. Pasalnya ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya.
Baca Juga: Si Anak Bertekad Baja /2/
“Yuk, beli jajanan di kantin. Aku dengar ada jual es lilin, ayo beli!” ucap Rida mengajak kedua sahabatnya ke kantin dan disambut riang oleh Rara.
“Hah, serius? Aku mau, dong,” ucap Rara.
Lain halnya dengan Syafa, ia begitu tampak tidak bersemangat. Bahkan ia tidak memedulikan kedua temannya yang tengah membicarakan es lilin.
“Fa, ayo kita ke kantin!” ajak Rida.
Ia hanya menjawab dengan geleng-geleng kepala saja, menandakan bahwa ia tidak ingin ikut bersama mereka.
“Ayolah, Fa! Kamu kenapa? Kok akhir-akhir ini tidak bersemangat?” tanya Rara yang mulai menyadari tentang perubahan sikap sahabatnya ini.
“Ya udah, deh, kami duluan, ya,” ucap Rida, mereka pun meninggalkan Syafa seorang diri.
Selama perjalanan menuju kantin, mereka kembali membahas tentang Syafa. Bertanya-tanya tentang keadaan sahabatnya.
“Rida, Syafa kenapa, ya? Ada yang tidak beres pasti,” ucap Rara.
“Hm … iya kan. Gimana kalau kita bilang saja sama Bu Sintya?” jawab Rida.
“Boleh. Eh itu Bu Sintya, ayo samperin!” ucap Rara dan langsung menarik tangan Rida.
Mereka pun mulai menceritakan tentang perubahan sikap sahabatnya kepada Bu Sintya.
Keesokan harinya, ketika jam istirahat, Bu Sintya langsung mendatangi Syafa yang tengah duduk di taman sendirian. “Syafa, Nak,” panggil Bu Sintya.
“Eh Ibu, saya, Bu,” ucap Syafa.
Dari percakapan mereka, Syafa perlahan-lahan mulai menceritakan tentang masalah yang dihadapinya. Tidak mudah untuk membujuk Syafa cerita, butuh beberapa kali pertemuan kedua untuk membuatnya mau cerita. Sebab itu, tak jarang mereka bertemu dan mengobrol bersama. Bu Sintya mencoba untuk membangkitkan semangat Syafa lagi, karena Bu Sintya tahu, kalau Syafa adalah anak yang ceria. Tanpa disangka, teman-temannya yang melihat kedekatan keduanya mulai iri dengan Syafa, dan perlahan membenci Syafa.
Ketika Syafa sedang sendirian, tampak beberapa anak mendatanginya. “Eh, Syafa, kamu caper kan sama Bu Sintya, sok-sok pasang muka sedih, biar apa? Hah! Biar dikasihani?” ucap salah seorang anak.
“Huu caper wuu…” ucap beberapa anak yang menyoraki Syafa. Ia hanya bisa menunduk dan terdiam, tanpa ia sadari matanya mulai meneteskan air mata.
Sejak hari itu, Syafa sering mendapatkan cemoohan dari teman-temannya, mendapatkan julukan yang tidak menyenangkan, bahkan tak jarang mereka mengambil dan menyembunyikan barang-barang Syafa.
Hingga suatu hari, perlakuan beberapa temannya pun dipergoki oleh kedua sahabatnya. Mereka langsung memanggil Bu Sintya dengan cepat, agar Bu Sintya melihat perlakuan teman-temannya.
“Hey, ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?” ucap Bu Sintya penuh murka melihat perlakuan anak muridnya yang tidak wajar.
Mereka semua langsung terdiam dan ketakutan.
“Ma-maaf, Bu, kami hanya tidak suka melihat Syafa yang terus dekat dan caper ke Ibu,” jawab salah seorang anak dengan penuh kejujuran.
“Kalian tidak boleh seperti itu! Syafa selalu dekat dengan Ibu itu karena sekarang dia sedang ada masalah keluarga. Ibu mencoba menghibur dan berusaha untuk menyemangati Syafa, agar Syafa menjadi lebih ceria seperti sedia kala,” ujar Bu Sintya membuat mereka merasa bersalah karena sudah menuduh Syafa mencari perhatian kepada Bu Sintya.
“Kami tidak tahu kalau Syafa sedang ada masalah keluarga, Bu,” ucap salah seorang dari mereka dengan penuh penyesalan.
“Kalau kalian tidak tahu, sebaiknya kalian diam. Jangan sampai berburuk sangka seperti itu apalagi sampai ada penindasan seperti ini. Paham kalian!” jelas Bu Sintya.
“Paham, Bu,” ucap mereka serempak.
“Maaf ya, Syafa, kami semua sudah salah paham sama kamu,” ucap salah seorang yang mewakili permintaan maaf semuanya.
“Iya, aku sudah memaafkan kalian,” ujar Syafa dengan senyuman.
“Terima kasih ya, Syafa,” ucap mereka serentak, langsung memeluk dan menyalami Safa.
Baca Juga : Si Anak Bertekad Baja /3/
Editor : Muhammad Daffa
-Tamat-

