
Penulis: Widya Kartika
Sebagai muslim, keyakinan bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Allah adalah sesuatu yang harus digenggam erat, sebab hal ini berkorelasi langsung pada akidah. Keyakinan ini tersurat dalam Rukun Iman yang enam, persis pada lafaz ketiga, yakni iman kepada kitab-kitab Allah.
Baca Juga: Addin 458: Dari Adzan hingga Kenyang, Sebuah Pengingat akan Kefanaan Dunia
Pernahkah kita merenung, bertanya pada diri sendiri, “Sejauh mana pengetahuanku tentang Al-Qur’an? Benarkah Al-Qur’an adalah kalam Allah? Atau hanya dogma yang sekadar kuyakini?” Demi menjawab pertanyaan itu, maka diperlukan pencarian serius dengan temuan yang dapat meneguhkan keimanan, memuaskan akal, dan melenyapkan keraguan. Terlebih bagi para penyeru agama Allah, bukti keilahian Al-Qur’an mesti dikuasai agar kelak dapat membantah pernyataan yang mendeklarasikan ketidaksahihan Al-Qur’an sebagai kalam-Nya.
Sejak pertama kali diwahyukan di tanah Arab, banyak yang tidak percaya bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah. Pada masa itu, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dituduh sebagai pengarang kitab suci umat Islam. Mirisnya, tuduhan tersebut masih terdengar hingga hari ini, padahal para ulama telah menyangkalnya dengan menghadirkan sederet bukti dan argumen. Manna’ Khalil al-Qaththan, dalam Mabahits fii ‘Ulum al-Qur’an, menyebut para “penuduh” itu berargumen dengan istilah modern yang terkesan ilmiah, namun hakikatnya sama dengan pendapat kuno jahiliyah.
Orang-orang yang meyakini bahwa Al-Qur’an merupakan karya Nabi Muhammad agaknya lupa, bahwa beliau tidak pernah berdusta, sebelum maupun sesudah menjadi nabi dan rasul. Fakta tersebut tidak hanya diakui oleh para sahabat radiyallahu ‘anhuma, tetapi juga masyarakat kafir Makkah pada masa itu yang justru memberi gelar Al-Amin kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Hal ini menjadi kontradiktif jika kita menerima Al-Qur’an sebagai kalam beliau, padahal beliau sendiri mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah Ta’ala.
Jika kita membuka kitab sirah nabawiyah, akan kita dapati halaman yang mengisahkan fitnah keji terhadap Sayyidah Aisyah radiyallahu ‘anha, istri Rasulullah. Abdullah bin Ubay bin Salul menyebarkan berita bohong bahwa Aisyah melakukan aktivitas tidak senonoh dengan Shafwan Mu’aththal as-Sulami. Kabar tersebut tersebar ke seantero Madinah. Uniknya, Rasulullah tidak membela istrinya. Padahal, jika Rasulu benar penulis Al-Qur’an, niscaya tidak sulit bagi beliau untuk menurunkan ayat untuk menentang tuduhan keji tersebut agar istrinya terbebas dari fitnah. Namun, Rasulullah tidak melakukannya. Beliau menunggu wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala selama satu bulan. Dari peristiwa ini, dapat kita simpulkan betapa beliau sangat jujur dan menjaga integritasnya. Lebih lagi, hal ini membuktikan bahwa memang bukan Nabi Muhammad yang mengarang Al-Qur’an. Beliau hanya menyampaikan apa yang diwahyukan kepada beliau, selaras dengan QS. An-Najm ayat 4, “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
Al-Qur’an menyajikan banyak kisah umat terdahulu hingga kejadian gaib di masa depan. Pembacanya juga disuguhi isyarat-isyarat sains yang berlimpah. Hal tersebut menjadi bahan olok-olok masyarakat kafir pada saat itu. Bahkan, Al-Qur’an dianggap hanya dongeng untuk menidurkan bayi dan hasil imajinasi yang mustahil terjadi. Hingga kini, Allah membungkam mereka dengan memaparkan bukti kebenaran ayat-ayat-Nya. Di sisi lain, kajian historis menyebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang ummi. Dengan fakta yang hingga kini tak terbantahkan itu, mustahil Al-Qur’an berasal dari seseorang yang tidak pandai menulis dan membaca.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa Rasulullah pernah belajar kepada Ahlul Kitab, tetapi, pernyataan tersebut tidak berdasar. Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang mengkritik akidah kaum Nasrani dan perbuatan kaum Yahudi yang mengubah kitab suci, seperti QS. Al-Maidah ayat 13 dan 73, QS. An-Nisa ayat 46 dan 171, dan QS. Al-Baqarah ayat 75. Jika Al-Qur’an adalah karya Nabi Muhammad yang dipelajarinya dari Ahlul Kitab, mustahil di dalamnya terdapat kritik mengenai keyakinan mereka.
Al-Qur’an menentang siapa pun yang tidak mempercayainya sebagai kalam Allah untuk membuat kitab tandingan. Namun, hingga tulisan ini dibuat, belum ada yang berhasil. Bahkan teknologi Artificial Intelligence (AI) mutakhir seperti ChatGPT, DeepSeek, chatbot Meta, Perplexity, Large Language Model (LLM), atau sejenisnya tidak dapat membuat satu kalimat pun yang menyerupai Al-Qur’an.
Hanya ada dua kemungkinan pemilik kalam yang selama 14 abad hingga kini terus dihafal oleh ratusan juta orang, yaitu Sang Khaliq dan makhluk. Demikian yang Muhammad Nuruddin beberkan dalam bukunya, Membuktikan Al-Qur’an sebagai Kalam Ilahi. Jangankan Nabi Muhammad yang ummi, bahkan pakar bahasa Arab pun kesulitan membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an.
Jika makhluk terbukti tidak mampu membuat kitab sehebat Al-Qur’an, maka tidak ada pilihan lain selain menisbatkan kitab tersebut kepada Sang Khaliq, Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah fakta yang tak terbantahkan dan keautentikan Al-Qur’an terjaga hingga hari kiamat. Jika ada kesalahan sekecil apa pun, para “penjaga” kalam mulia ini akan segera memperbaikinya. Dari dulu hingga nanti, Al-Qur’an akan senantiasa suci dan terbebas dari distorsi. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hijr ayat 9, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami pula yang memeliharanya.”
Baca Juga: Addin 457: Rasa Malu Sebagian dari Iman
Editor: Ummy Syafitri


MaaSyaa Allah
Tulisan dikemas dengan begitu apik. Rasanya seperti menyantap bubur—mudah ditelan, insyaa Allah sekali baca langsung paham tanpa harus mengunyah kata-katanya berkali-kali. Barakallahu fiik