
Penulis: Hidayatul Rahmah
Pernahkah kamu merasa lapar hingga perut terasa keroncongan? Rasanya waktu berjalan begitu lambat, setiap menit terasa seperti jam. Namun, ketika akhirnya makanan tersaji di depan mata, dalam hitungan menit rasa lapar itu lenyap begitu saja. Begitu cepat, begitu singkat. Inilah pelajaran besar yang diajarkan puasa kepada kita, yakni betapa fana dan sementara kenikmatan dunia ini.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Namun, ia adalah perjalanan spiritual yang mengajarkan kita arti kesabaran, rasa syukur, dan kesadaran akan hakikat kehidupan. Sebuah pelajaran sederhana tetapi mendalam, yaitu 14 jam menahan lapar hanya untuk kenyang dalam 14 menit.
Baca Juga: Addin 457: Rasa Malu Sebagian dari Iman
Bukankah ini juga menggambarkan bagaimana manusia mengejar dunia? Bertahun-tahun kita berusaha mengumpulkan harta, membangun karier, dan mengejar status sosial, hanya untuk merasakan kebahagiaan yang sesaat ini. Setelah keinginan tersebut sudah tercapai, kita sering kali merasa kosong dan kembali mencari sesuatu yang baru untuk dikejar.
Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Bayangkan hari-hari di bulan Ramadan. Dari fajar hingga senja, kita menahan diri dari makan dan minum. Perut kosong mulai terasa sejak siang hari, tenggorokan kering, energi perlahan terkuras. Setiap detik terasa lebih panjang dari hari biasanya.
Nyatanya, ada sesuatu yang ajaib di balik semua itu, yaitu kesabaran mulai tumbuh dalam diri kita. Puasa mengajarkan kita bahwa dunia ini hanyalah persinggahan. Segala kenikmatan yang kita kejar, pada akhirnya, akan berlalu begitu saja.
Coba renungkan, berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk mengejar hal-hal material? Rumah mewah, kendaraan mahal, atau gawai terbaru mungkin memberikan rasa puas sesaat. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Kita kembali merasa kurang dan ingin lebih.
Rasulullah bersabda dalam Hadis Riwayat Tirmidzi (2347):
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan dikaruniai sifat kanaah terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya.”
Lalu, di mana sebenarnya kebahagiaan sejati itu? Jawabannya ada pada rasa syukur dan kedekatan kita dengan Allah. Sebarapa sering kita bersyukur dan seberapa dekat kita dengan Sang Khalik.
Saat berbuka puasa dengan segelas air putih dan sebutir kurma pun sudah terasa nikmat, bahkan lebih nikmat daripada hidangan mewah sekalipun. Itu bukan karena kurma atau airnya lebih istimewa, tetapi karena kita telah belajar menghargai hal-hal sederhana dalam kehidupan kita.
Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:
“Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: Kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya.”
Puasa adalah cara Allah mengajarkan kita untuk melepaskan ketergantungan pada dunia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lebih kekal. Tidak hanya itu, puasa juga mengajarkan kita tentang betapa pentingnya mensyukuri nikmat Allah bahkan sekecil apapun. Mensyukuri hal kecil saja, Allah melipatgandakan pahala sebagaimana dengan nikmat yang lebih dari itu, dan pahala yang didapatkan pun tak terhitung kiranya.
Mari berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Apa sebenarnya yang sedang kita kejar dalam hidup ini? Apakah itu sesuatu yang abadi atau hanya ilusi sesaat? Jangan sampai kita menghabiskan seluruh hidup mengejar hal-hal fana, tetapi melupakan tujuan utama sebagai manusia.
Saat kita mati, tidak ada satu pun harta yang kita bawa. Jabatan tinggi, kekayaan, dan popularitas akan ditinggalkan. Satu-satunya yang akan kita bawa adalah amal dan ketakwaan.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Puasa bukan hanya ritual, tetapi latihan untuk menjadikan kita manusia yang lebih bertakwa. Setiap tegukan air saat berbuka puasa adalah pengingat bahwa kenikmatan dunia hanyalah sementara. Setiap suapan makanan adalah pelajaran tentang pentingnya rasa syukur atas nikmat kecil sekalipun. Lalu, setiap hari saat Ramadan adalah kesempatan untuk merenungkan kembali tujuan hidup kita.
Puasa adalah latihan spiritual yang membantu kita melepaskan keterikatan pada duniawi dan lebih fokus pada kehidupan akhirat. Dengan berpuasa, kita belajar untuk mengendalikan hawa nafsu, menumbuhkan kesabaran, dan memperkuat hubungan kita dengan Allah.
Seperti sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Al-Hakim:
“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya diangkat, maka yang lain pun akan terangkat.”
Hal ini mengajarkan kita bahwa menjaga diri dari hawa nafsu dan kesenangan dunia yang berlebihan merupakan bentuk tanda keimanan yang sudah kuat. Puasa bukan sekadar ibadah fisik, tetapi juga bentuk latihan bagi hati dan jiwa untuk lebih mendekat diri kepada Allah.
Pada akhirnya, puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi lebih dari itu. Puasa adalah pengingat akan kefanaan dunia dan pentingnya mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lebih kekal.
Jadikan puasa sebagai cermin kehidupan dan sebuah latihan untuk melepaskan diri dari keterikatan pada duniawi dan mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu karena, kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam hal-hal fana, tetapi dalam hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Baca Juga: Addin 454: Emansipasi dan Tradisi Kesetaraan Perempuan dalam Islam
Editor: Muhammad Haikal Nainggolan

