Edisi 483: Zikir Menjadi Pelindung di Hari Akhir

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Shella Andriani)

Penulis: Anindyana Rahayu

Perang Amerika dan Iran yang banyak disebut sebagai Perang Dunia III dianggap sebagai salah satu tanda akhir zaman. Di samping itu, bergabungnya Indonesia dengan Board of Peace yang dibentuk oleh Donald Trump dan mengikutsertakan Israel menjadi teka-teki besar atas keputusan pemimpin Indonesia. “Palestina merdeka” yang menjadi harapan besar masyarakat Indonesia seakan sirna, dan bayang-bayang kekejian turut menyertai kala laman media sosial membahas genosida yang terjadi di Palestina.

Banyak sekali tanda-tanda kemunculan akhir zaman. Bahkan, banyak orang memperingati dan menafsirkan bahwa apa yang terjadi di dunia belakangan ini merupakan bagian dari akhir zaman. Maka dari itu, penulis mengajak pembaca untuk senantiasa berzikir agar terhindar dari fitnah Dajjal. Sebelumnya, banyak pertanyaan yang muncul di kolom komentar Instagram dan TikTok mengenai zikir akhir zaman.

Baca Juga: Edisi 482: Tabayun Sebelum Menerima Informasi

“Kenapa zikir dan doa yang mereka baca bisa memunculkan kekuatan yang demikian kuat? Cara apakah yang mereka lakukan untuk memunculkan kekuatan itu?”

“Apa dan bagaimana cara-cara tersebut jika memang ada? Apakah bisa kita pelajari dan kita tiru?”

“Apa kelemahan dan kesalahan doa serta zikir yang saya pelajari selama ini?”

Untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, kita memerlukan kajian yang lama dan cermat. Mungkin, jawaban tersebut bahkan memerlukan sebuah buku tebal tersendiri. Dalam tulisan ini, penulis mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan uraian singkat.

Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menggali hakikat zikir. Sekalipun kata zikir berasal dari bahasa Arab, kata tersebut telah diserap dan menjadi kata yang populer dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, zikir dapat didefinisikan sebagai pujian kepada Allah yang disusun dan diucapkan secara runtut dan berulang-ulang; doa dan pujian yang dilagukan, biasanya dilantunkan saat memperingati Maulid Nabi; mengingat Allah. Di samping itu, aktivitas berzikir didefinisikan sebagai kegiatan mengucapkan zikir, mengingat kebesaran Allah, dan menyebut asma-Nya berulang-ulang.

Kita tidak akan mengomentari definisi di atas lebih lanjut. Sebaliknya, kita akan berusaha menggali hakikat zikir secara lebih dalam dengan mengkaji penggunaan lafal zikir dalam Al-Qur’an, as-Sunnah, dan bahasa Arab. Dengan demikian, kita bisa menarik gambaran yang utuh dan menyeluruh tentang hakikat zikir. Bagaimanapun, memahami hakikat zikir sebagaimana yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya merupakan salah satu langkah paling tepat untuk menghadirkan kedahsyatan energi zikir.

Zikir berasal dari kata kerja dasar dzakara–yudzakiru–dzikran wa dzukran. Dalam bahasa Arab, kata zikir semula digunakan untuk dua fungsi, yakni:

Pertama, kondisi kejiwaan tertentu yang dengannya seorang manusia dapat menjaga ilmu dan pengetahuan yang telah ia peroleh. Kata zikir dalam fungsi ini dapat disejajarkan dengan kata hifzh (menghafal). Artinya, baik kata zikir maupun kata hifzh sama-sama mempunyai makna menjaga, menghafal, dan mempertahankan pengetahuan yang telah diperoleh.

Kedua, hadirnya sesuatu dalam hati atau lisan. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa zikir ada dua macam, yaitu zikir dengan lisan dan zikir dengan hati. Berdasarkan sebab yang melatarbelakanginya, masing-masing terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu zikir yang disebabkan oleh kelupaan dan zikir yang bukan disebabkan oleh kelupaan, melainkan untuk menjaga informasi yang telah diperoleh. Keseluruhannya dalam bahasa Arab juga disebut zikir.

Selanjutnya, marilah kita melihat lebih jauh penggunaan macam-macam zikir.

Zikir dengan Lisan

Seperti dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian sebuah kitab yang di dalamnya terdapat zikir bagi kalian. Maka apakah kalian tidak memahaminya?” (QS. Al-Anbiya: 10)

“Dan kitab Al-Qur’an ini adalah suatu zikir yang penuh berkah yang telah kami turunkan. Maka mengapa kalian mengingkarinya?” (QS. Al-Anbiya: 50)

Jika kita membaca ayat-ayat di atas dan penafsiran para ulama terhadapnya, niscaya kita akan sampai kepada kesimpulan yang sama. Sesungguhnya yang dimaksud dengan zikir dalam ayat-ayat tersebut adalah Al-Qur’an dan kitab-kitab suci sebelumnya. Kitab-kitab suci yang dibaca dengan lisan inilah yang dimaksud dengan zikir. Membaca Al-Qur’an dengan lisan merupakan bentuk zikir yang terjadi bukan karena kelupaan.

Zikir dengan Hati dan Lisan secara Bersamaan

Seperti dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berzikirlah dengan menyebut Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membanggakan) nenek moyangmu, atau bahkan berzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200)

Zikir dengan Hati, Lisan, dan Anggota Badan

Apabila kita merenungi berbagai makna zikir yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana telah kita kutip di atas, maka kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa sesungguhnya zikir adalah aktivitas yang sangat luas dan menyeluruh.

Zikir bukan terbatas pada lantunan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istigfar, haukalah (ucapan laa haula wa laa quwwata illa billah), istirja (ucapan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), dan doa-doa lainnya. Lebih dari itu, semua bentuk ibadah dengan hati, lisan, dan anggota badan termasuk bagian dari zikir.

Demikian cara-cara zikir yang penulis sampaikan. Semoga hal ini menjadi pegangan bagi kita untuk menghadapi akhir zaman dan senantiasa dilindungi Allah subhanahu wa ta’ala.

Baca Juga: Addin 481: Menjaga Marwah Seorang Perempuan dalam Islam

Biodata:

  • Nama: Anindyana Rahayu
  • Jurusan: Ekonomi Islam
  • Fakultas: Ekonomi dan Bisnis Islam
  • Semester: VI
  • Instagram: @nindyuu

Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

 

- Advertisement -

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles