Pentingnya Pemulihan Trauma dan Lingkungan Pasca Banjir Sumatra

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Istimewa)

Penulis: Nurhayani

Banjir di berbagai wilayah Sumatra, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, meningkat tajam seiring perubahan iklim dan kerentanan lingkungan. Banjir selalu menyisakan dua cerita: air yang akhirnya surut dan masalah yang tetap tinggal. Di balik lumpur dan tumpukan sampah, ada dua hal penting yang jarang terlihat tetapi sangat menentukan pemulihan masyarakat, yaitu trauma psikologis dan kerusakan lingkungan.

Setelah air surut, fokus selanjutnya bukanlah sekadar membersihkan rumah. Yang dibutuhkan adalah pengelolaan dampak psikologis korban serta perbaikan kualitas lingkungan agar masyarakat Sumatra tidak hanya pulih, tetapi juga mampu menghadapi jika ada ancaman banjir berikutnya.

Baca Juga: Seblak Kekinian, Makanan Enak yang Membahayakan Kesehatan

World Health Organization (WHO) mencatat bahwa korban bencana alam memiliki risiko hingga empat kali lipat lebih tinggi mengalami stres pascatrauma (PTSD), kecemasan, dan depresi. Gejalanya seperti panik saat hujan deras turun, mimpi buruk tentang banjir, bahkan merasa lingkungannya tidak lagi aman.

Pemulihan psikologis pasca banjir perlu diberikan untuk membangun kembali kondisi mental yang hancur, salah satunya dengan menceritakan pengalaman kepada orang lain agar membantu otak mengatur ulang emosi setelah bencana. American Psychological Association menyebutkan bahwa dukungan sosial juga dapat mempercepat pemulihan dan lebih efektif daripada terapi individual.

Selain itu, mendapatkan bimbingan psikologis juga diperlukan agar korban sadar bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi perasaannya. Selanjutnya adalah mengatur kembali rutinitas positif untuk melewati masa-masa sulit karena rutinitas memberi sinyal keamanan bagi tubuh.

Trauma psikologis harus segera ditangani agar korban dapat menjalani kehidupan sehari-hari secara normal. Walaupun dalam implementasinya sering menghadapi tantangan, seperti kekurangan sumber daya, minimnya tenaga ahli yang terlatih, serta kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.

Hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah menata ulang lingkungan, karena lingkungan pasca banjir harus dibangun kembali bukan hanya untuk sembuh, tetapi juga untuk bertahan menghadapi ancaman banjir ke depannya. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan ekstrem meningkat karena perubahan iklim dalam beberapa tahun terakhir.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan bahwa setiap kejadian banjir di kawasan perkotaan dapat meningkatkan volume sampah hingga 40–60 persen yang terdiri atas lumpur, ranting dan material organik, pakaian, furnitur, elektronik, dan plastik yang terbawa arus.

Air memang surut, tetapi meninggalkan lumpur, sampah berserakan, sumur tercemar hewan mati, hingga saluran air yang tertutup sedimen. Semua ini dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti diare, risiko leptospirosis dari tikus, dan wabah demam berdarah dengue (DBD). Pemulihan lingkungan pasca banjir dilakukan dengan membersihkan sedimen dan lumpur yang tertinggal karena lumpur tersebut dapat mengandung bakteri Escherichia coli dan patogen lainnya.

Pemulihan pasca banjir di Sumatra tidak lepas dari persoalan penebangan hutan yang terjadi hampir di setiap provinsi. Data KLHK menjelaskan bahwa Sumatra kehilangan ratusan ribu hektare hutan dalam dua dekade terakhir. Hilangnya hutan berarti hilangnya penahan air alami, yaitu akar-akar yang menyerap air hujan agar tanah tidak mudah longsor serta mencegah sungai cepat meluap.

Pasca banjir adalah kesempatan untuk berbenah secara menyeluruh. Pemerintah daerah perlu menguatkan kembali sistem peringatan dini sekaligus memperketat pengawasan serta menindak tegas penebangan hutan yang memperbesar risiko banjir. Jika kesadaran, kepedulian sosial, dan komitmen menjaga alam tumbuh bersama, maka proses pemulihan banjir akan lebih cepat dan memberi harapan baru bagi daerah-daerah terdampak.

Trauma masyarakat pasca banjir terikat dengan cara kita memperlakukan lingkungan. Ketakutan warga setiap kali hujan deras turun adalah konsekuensi dari rusaknya hutan yang dulu menjadi benteng alami. Pemulihan psikologis masyarakat akan berjalan dengan baik jika dibarengi dengan pemulihan ekologis yang nyata. Pada akhirnya, ketika hutan kembali tumbuh, rasa aman pun perlahan ikut kembali.

Baca Juga: Di Balik Senyum, Menguak Realita dan Tantangan Kesehatan Mental Masa Kini

Editor: Ummy Syafitri

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles