‘Magrib Banget!’ Ucap Warganet

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Pribadi)

Penulis: Rika Wulandari

Makin hari, perilaku manusia makin menunjukkan keanehan saja. Standar-standar kehidupan dipatok makin tinggi, orang-orang yang tidak sesuai, kerap dipertanyakan oleh mereka. Kali ini penulis menyoroti kalimat hinaan yang tidak habis-habis terbaca di beberapa kolom komentar. Perkara warna kulit yang tidak sesuai dengan standar dipikiran mereka akan dicemooh habis-habisan. Hal ini termasuk rasisme, dan memang bukan lagi hal yang baru terjadi di tanah air tercinta ini. Namun, tidak seharusnya permasalahan seperti ini masih meluap di tahun menuju Indonesia Emas. Hanya karena warna kulit yang sedikit lebih gelap bahkan dibesar-besarkan sampai harus berkata yang tidak-tidak. Bukan lagi diucapkan secara langsung, melainkan diumbar-umbar lewat media sosial.

Baca Juga: Menanti Realisasi Satgas PPKS UIN SU, Kapan Bisa Realisasinya?

Katanya, gencaran Stop Bullying! berlaku untuk siapa pun, tetapi akhir-akhir ini seakan meredup dan hilang entah ke mana. Ini pembahasan yang serius, sayangnya tidak semua orang dapat diajak untuk memahami itu. Kekesalan turut penulis rasakan saat membaca komentar-komentar netizen di akun-akun media sosial, terlebih di akun-akun para perempuan. Sedihnya lagi, akun-akun yang mengatakan hal-hal seperti itu terdeteksi dengan gender yang sama. Bahkan artis-artis yang terkenal dengan kecantikan dan keluwesannya di dunia entertainment pun tidak luput dari mata-mata jahat untuk dijadikan sasaran dalam pembahasan ini. Orasi girl support girl juga teredam oleh ujaran-ujaran kebencian yang terlontar di kolom komentar.

Pembahasan warna kulit tidak lagi mereka sebut dan tuliskan dengan kalimat yang begitu menusuk. Seolah menemukan cara baru untuk melakukan kejahatan, orang-orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri itu menggunakan istilah yang terkesan halus tetapi tetap menyakitkan untuk menghina. “Magrib banget!” katanya. Perlu diketahui, dalam hal ini “magrib” yang disebutkan para netizen jahat itu sering mengarah pada warna kulit seseorang yang cenderung sedikit gelap. Menurut mereka, istilah ini digunakan karena waktu magrib merupakan transisi hari menuju malam yang ditandai dengan langit yang mulai gelap sehingga mereka menggunakannya sebagai perumpamaan untuk menjelekkan seseorang.

Padahal, penghinaan tidak pernah dibenarkan meski dengan cara yang halus sekalipun. Terlebih kata “Magrib” identik dengan waktu ibadah umat Islam dan tidak seharusnya digunakan untuk menghina ciptaan-Nya. Cemoohan yang didasarkan pada satu orang tentu dapat menyebabkan trauma yang berkepanjangan bagi si penerima. Belum pasti pemulihannya.

Rasa-rasanya kesal terus membuncah kala melihat kata tersebut berseliweran di mana pun. Yang tadinya berniat buka media sosial untuk sekadar menghilangkan penat, malah terpancing amarah. Karena kesal melihat para pembuli itu menyandingkan kalimatnya dengan emotikon tertawa. Sayangnya, pada saat itu juga penulis tidak bisa melakukan hal yang lebih besar untuk membela kecuali dengan memberikan semangat atau membalas komentar-komentar jahat. Menjadi satu pembela di antara ribuan hinaan sepertinya bukanlah hal yang buruk, setidaknya itu lebih baik dari orang-orang yang barangkali belum mengerti betapa menyedihkannya menjadi bulan-bulanan di khalayak.

Agaknya pembahasan ini terlalu membosankan untuk jadi bahan bacaan. Akan tetapi, penulis bermaksud mengingatkan untuk tidak melakukan hal-hal yang bukan seharusnya dilakukan manusia. Sadarilah kalau manusia adalah makhluk-Nya yang begitu mulia, dan perilaku seperti itu bukanlah hal yang selayaknya. Posisikan dirimu sebagai korban, apabila suatu hari kamu berniat melakukan hal seperti itu pada seseorang. Jadilah baik, setidaknya untuk hari ini. Perihal esok, kita usahakan lagi.

Baca Juga: Pemberlakuan Parkir Berlangganan di Kota Medan, Solusi atau Masalah Baru?

Editor       : Muhammad Daffa

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles