Mixue Kini Semakin Menghilang, Bukti Franchise Tidak Akan Bertahan Lama?

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Prolegal. id)

Penulis: Putri Rizky Handayani

Siapa sih, yang nggak kenal Mixue? Si gerai es krim asal Tiongkok yang mendunia sehingga menjadi semacam fenomena sosial di Indonesia. Sejak kehadirannya di Indonesia pada tahun 2020, Mixue langsung mencuri panggung. Tiap ada jalan besar, tiap gang, bahkan ruko kosong pun selamat ketika Mixue menempatinya. Dalam waktu singkat, ratusan gerai bermunculan. Franchisee rela keluar modal hampir 400 juta dengan harapan omzet tembus sampai 150 juta per bulan.

Tapi fast forward ke 2024-2025 gerai yang memiliki ikon raja es krim pun mulai sepi. Kabar yang beredar juga sudah berbanding terbalik. Satu per satu cabangnya mulai tutup. Dari ramai pengunjung, kini beberapa gerai sudah kosong bak menghilang dari masa kejayaan.

Baca Juga: Toxic Positivity, ‘Berpikir Positif’ Bisa Bikin Lelah?

Model bisnis franchise memang populer karena dianggap praktis bagi semua orang. Pemilik modal hanya membeli lisensi dari pemilik merek (franchisor), lalu menjalankan usaha dengan nama dan sistem yang sudah siap pakai. Semua terlihat mudah, merek sudah terkenal, produk sudah punya pelanggan, promosi pun dilakukan oleh pihak pusat. Namun, di balik kemudahan itu ada kenyataan yang jarang dibicarakan semua orang, yaitu risiko terbesar justru ada di tangan penerima waralaba (franchise).

Frinchese-lah yang menanggung semua biaya operasional, mulai dari sewa bangunan, gaji karyawan, bahan baku sampai listrik serta harus membayar royalti dan mengikuti aturan dari franchisor. Ketika penjualan turun, franchisor tetap aman dengan pendapatan dari lisensi, tapi franchise merasakan rugi yang sangat besar.

Selain itu, di awal kemunculannya Mixue juga mencuri perhatian karena harganya murah dan konsep tokonya yang menarik. Tapi, setiap tren pasti ada masanya. Setelah beberapa tahun, antusiasme masyarakat mulai berkurang, dari yang awalnya antrian panjang kini masyarakat sudah biasa saja karena persaingan antar merek juga ketat. Kini muncul banyak merek minuman dan es krim baru dengan varian serta konsep yang lebih menarik.

Dalam sistem bisnis franchise, keuntungan memang tidak selalu seimbang. Pihak franchisor mendapatkan pemasukan dari penjualan lisensi dan bahan baku ke semua cabang. Tetapi pihak frinchise hanya bergantung pada keuntungan hasil penjualan harian di lokasi mereka. Jika lokasi gerai kurang strategis atau pasar sudah mulai jenuh, franchise bisa rugi besar. Ironisnya, mereka tidak punya kebebasan penuh untuk berinovasi atau menyesuaikan harga karena semuanya sudah diatur pusat. Jadi, meski dari luar terlihat seperti jaringan besar yang sukses, nyatanya di lapangan banyak franchise yang berjuang sendirian menghadapi penurunan omzet.

Kasus Mixue bisa dibilang sebagai refleksi bahwa bisnis berbasis tren memiliki umur pendek jika tidak diimbangi inovasi dan strategi jangka panjang. Ketika tren sudah reda, pelanggan beralih ke hal baru, dan bisnis yang tidak siap beradaptasi akan tertinggal. Masalahnya, banyak orang yang membeli franchise hanya karena ikut-ikutan. Melihat teman buka cabang dan ramai, lalu mereka berpikir hasilnya juga akan sama. Padahal kondisi pasar, daya beli masyarakat, dan lokasi tiap daerah pasti berbeda.

Fenomena tutupnya banyak gerai Mixue tidak selalu berarti mereknya gagal, tapi menunjukkan bahwa tidak semua franchise bisa bertahan di segala situasi. Bisnis yang kuat bukan hanya soal nama besar, tapi kemampuan menyesuaikan diri dengan pasar.

Metode bisnis franchise itu seperti ombak, dia tampak besar dan kuat di awal, namun perlahan surut jika tak dijaga arahnya. Tanpa strategi yang jelas dan pikiran yang matang, semangat awal itu akan tenggelam bersama dengan arus tren yang terus semakin berubah.

Baca Juga: Huru-Hara Pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis

Editor: Ranum Aisyah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles